aji bengkulu

Dibuka; Online Holistic Safety Training for Journalists

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengundang seluruh jurnalis di Indonesia, untuk mengikuti program “Online Holistic Safety Training”.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran jurnalis agar menjalankan profesi dengan aman dari aspek fisik, digital, hukum dan psikososial, dengan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan antisipasi serta mitigasi kekerasan fisik, digital, hukum, dan psikososial.

Diharapkan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, risiko kekerasan dan dampak kekerasan dapat diminimalisasi kepada jurnalis, sehingga jurnalis memiliki rasa aman ketika menjalankan profesinya.

Pelatihan akan diadakan dalam 3 (tiga) periode. Masing-masing periode akan diikuti oleh 20 orang jurnalis, dan untuk periode pertama akan diselenggarakan dalam platform online.

Program apakah ini?

Ini merupakan program peningkatan kapasitas jurnalis untuk memahami aspek keamanan fisik, digital, hukum, dan psikososial dalam menjalankan profesinya sebagai jurnalis.

Peserta akan diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam mengantisipasi berbagai bentuk kekerasan baik fisik, digital, hukum, maupun psikososial dengan memperhatikan aspek bentuk ancaman dan kebutuhan skill khusus pada jurnalis perempuan.

Pelatihan online akan diadakan selama 2 (dua) minggu untuk menyelesaikan 20 modul yang telah disusun oleh tim trainer berpengalaman di bidang keamanan fisik, digital, hukum, dan psikososial. Pelatihan ini akan dilakukan melalui berbagai platform online untuk pertemuan, diskusi, dan praktikum termasuk ruang kelas virtual.

Siapa yang dapat menjadi peserta?

Jurnalis di seluruh wilayah Indonesia dari berbagai platform media (cetak/online, televisi, dan radio) dengan pengalaman kerja minimum 2 tahun. Program ini akan diberikan kepada 20 jurnalis terpilih dalam setiap periode pelatihan.

Bagaimana cara menjadi peserta kegiatan ini?

Untuk dapat menjadi peserta, anda dapat mengisi dan mengirimkan formulir lamaran dan
usulan liputan yang ada dalam Form ini: http://bit.ly/daftar_holisticsafety

Batas waktu penerimaan formulir pada tanggal 14 September 2020. Setelah terpilih menjadi peserta, anda akan diminta untuk mengirimkan CV terbaru dan surat rekomendasi dari redaktur untuk mengikuti kegiatan ini.

Bagaimana proses setelah seleksi?

Peserta terpilih akan mengikuti training selama 2 minggu secara online. Peserta akan diberikan pembekalan di awal untuk memahami metode dan struktur online platform yang digunakan.

Panitia akan mengirimkan pemberitahuan resmi mengenai terpilih atau tidaknya jurnalis yang sudah mendaftar dalam program ini.

Perlu informasi lebih lanjut?

Jika rekan-rekan membutuhkan informasi lebih jelas terkait topik ataupun informasi lainnya, silakan mengirim email ke: onlinecourse@ajiindonesia.or.id dengan subjek: Holistic Safety Training

Dana Hibah untuk Liputan Mendalam Jaminan Sosial

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dengan dukungan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dan Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), membuka peluang bagi jurnalis media online, cetak, televisi, dan radio mengajukan dana hibah untuk peliputan mendalam (in-depth) menyoroti isu jaminan sosial nasional di masa Pandemi Covid-19.

Syarat umum

  1. Mengikuti rangkaian webinar yang diadakan AJI-DJSN-FES pada tanggal sbb:
    19 Agustus 2020 dengan tema Kesetaraan Manfaat Bagi Peserta BPJS Kesehatan
    26 Agustus 2020 dengan tema “Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Masa Pandemi Covid-19”
    2 September 2020 dengan tema “Pentingnya Manfaat Program JKK Return to Work
    9 September 2020 dengan tema “Jurnalisme (Berbasis) Data: Memaknai data publik dalam sistem jaminan sosial”
  2. Memilih salah satu tema diskusi webinar sebagai usulan liputan
  3. Membuat liputan indepth dan melaporkannya dalam bentuk tulisan in-depth (laporan mendalam)
  4. Mendapat dukungan dari media masing-masing untuk mempublikasikan karya jurnalistik yang dihasilkan dengan mengirimkan surat dukungan dari penanggung jawab redaksi masing-masing

Ketentuan:

  1. Peserta mengisi proposal liputan yang tajam dan menarik melalui link google form: https://bit.ly/journalismgrantSJSN.
  2. Penyelenggara akan melakukan seleksi terhadap seluruh proposal liputan yang diajukan.
    Panitia akan memilih 25 usulan tema yang paling menarik, untuk mendapatkan beasiswa peliputan masing-masing senilai Rp3,000,000,-.
  3. Peserta terpilih akan mendapatkan asistensi dari mentor selama proses peliputan. Mentor akan dipilih oleh penyelenggara.
  4. Deadline pengiriman proposal liputan adalah tanggal 18 September 2020.
  5. Maksimal waktu peliputan dan penulisan adalah satu bulan. Jika lebih dari tenggat waktu naskah masih belum tayang, penyelenggara berhak mencabut dan membatalkan beasiswa peliputan.
  6. Jika ada informasi lain yang ingin ditanyakan, silakan kontak Sekretariat AJI Indonesia melalui email: beasiswa.aji@gmail.com atau Putri melalui email putri.tirtasari@ajiindonesia.or.id, dengan subjek: Journalism Grant SJSN.

HUT Ke-25, AJI Beberkan Tiga PR Utama Jurnalisme Indonesia

VIVA – Dalam acara malam resepsi Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen ke-25, Ketua Umum AJI, Abdul Manan menegaskan, meskipun ini adalah tahun yang istimewa karena usia seperempat abad AJI bertepatan dengan usia 20 tahun kebebasan pers, namun ini adalah sebuah era di mana jurnalisme mendapatkan tantangan yang sangat serius.

Abdul mengibaratkan bahwa di masa saat ini, dunia pers Indonesia seperti berada di tengah badai kecil dengan sejumlah pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan.

“Dalam tiga hal krusial yang bisa kita lihat dari pers Indonesia saat ini adalah soal kebebasan, profesionalitas, dan kesejahteraan. Kita masih belum punya nilai yang bagus di ketiga hal tersebut,” kata Abdul dalam sambutannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu 7 Agustus 2019.

 Abdul menjelaskan, saat ini pers Indonesia masih harus melihat banyaknya tantangan, karena jumlah kasus kekerasan terhadap awak media masih sangat tinggi. Selain itu, masih ada sejumlah undang-undang yang mengancam dan berpotensi memenjarakan para wartawan, dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya.

“Hal itu juga dibuktikan dengan jumlah pengaduan ke dewan pers yang masih besar,” kata Abdul.

Selengkapnya..

Konferensi Nasional AJI: Tantangan Jurnalisme di Era Digital

Jakarta- Digitalisasi menjadi topik yang menjadi pembicaraan utama jurnalis dan pekerja media beberapa tahun ini. Perkembangan ini dipicu oleh massifnya pemanfaatan internet, dan kian terjangkaunya teknologi komunikasi dan infrastruktur pendukungnya yang makin baik dan luas. Penguna internet Indonesia saat ini sekitar 150 juta, lebih dari separoh populasi Indonesia yang sebanyak 260 juta.

Meluasnya pemanfaatan internet ini, tak bisa dihindari, mengubah pola penduduk dalam mengakses informasi dan cara media menyediakan berita. Digitalisasi ini menciptakan iklim perubahan pola konsumsi berita dari media konvensional ke digital, baik melalui media online maupun media sosial. Perkembangan ini mendoroang media untuk memberikan fokus baru -kalau bukan malah beralih-ke digital.

Peralihan besar ke digital ini diikuti juga perkembangan lainnya, yaitu alokasi iklan, cara kerja jurnalis dan jurnalisme. Digitalisasi mendorong para pengiklan mulai mengalihkan kue belanja iklannya dari media konvensional ke media digital, terutama ke mesin pencari dan media sosial. Hal ini berkontribusi bagi penurunan iklan media konvensional dan ikut menyumbang bagi tutupnya sejumlah perusahaan media cetak belakangan ini.

Digitalisasi juga mengubah cara kerja jurnalis. Digitalisasi mendorong media mengembangkan sayap digitalnya, dan itu mensyaratkan adanya perubahan pola kerja dari yang selama ini dilakukan dan juga membutuhkan keterampilan baru yang harus dikuasai. Jurnalis media cetak yang selama ini hanya menulis berita, mulai diminta untuk membuat berita yang bisa dipakai untuk radio, online atau TV.

Jurnalisme yang dikembangkan media juga “menyesuaikan” dengan arus perubahan ini. Ada yang mengikuti arus ini dengan pragmatis, yang itu kemudian memicu kritik terhadap kualitas jurnalismenya. Persaingan dengan media sosial membuat sejumlah media mengikutinya dengan berita cepat dan juga berusaha menjual atau mengemas berita agar lebih banyak dibaca (click bait) sehingga bisa mendapatkan iklan.

Tak semua media mengikuti apa yang disebut sebagai “resep klasik” bertahan di dunia digital tersebut, yaitu mengejar kecepatan dan menjual sensasi untuk mendapatkan iklan. Ada juga media yang bertahan dengan jurus klasik “content is king” dengan terus menerapkan jurnalisme investigasi dan mengembangkan jurnalisme data.

Namun narasi yang banyak diketahui publik, media berusaha bertahan di era digital ini dengan menomorsatukan bisnis dan mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalisme. Beberapa contoh yang kerap dipakai untuk mereka yang memiliki pandangan ini adalah bahwa media kini tergoda menyediakan informasi yang “ingin” dibaca, bukan lagi apa yang “seharusnya” dikonsumi publik sebagai sebuah produk jurnalisme. Sebagai produk jurnalisme, berita tak hanya harus memenuhi kaidah kebenaran, tapi juga mencerahkan publik.

Situasi mendorong keprihatinan soal nasib jurnalisme di era digital. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka dalam soal ini, seperti apa wajah jurnalisme Indonesia di tengah badai digital ini? Benarkah media sudah benar-benar mengikuti arus pasar dan tak lagi mengikuti norma-norma prinsip dalam jurnalisme? Ini baru gejala atau sudah menjadi pola kerja umum media di Indonesia?

Bagi jurnalisme, dan ini bukan hanya masalah Indonesia, tantangan yang dihadapi kini bukan semata soal perubahan iklim bisnis akibat digital. Tantangan lainnya juga menguatnya politik identitas, kefanatikan, yang melihat media dari kacamata sempit: jika tak sejalan dengan kepentingannya, dia akan disudutkan dan didelegitimasi. Taktik ini dipakai oleh para pemimpin sayap kanan atau penganut populisme seperti Donald Trump di Amerika Serikat.

Topik inilah yang diangkat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk memperingati hari ulang tahunnya yang ke-25 pada tahun 2019 ini. Konferensi nasional bertema Tantangan Jurnalisme di Era Digital ini akan dilaksanakan Selasa, 6 Agustus 2019, di Hotel JS Luwansa, Pukul 12.30-18.00 WIB.

Konferensi Nasional Sesi I: Wajah Kebebasan Pers Indonesia
1. Pemenang Call for Papers*
2. Abdul Manan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
3. Ade Wahyudin, Direktur Eksekutif LBH Pers
Moderator: Fira Abdurrahman, Jurnalis freelance

Konferensi Nasional Sesi II: Mencari Model Jurnalisme Indonesia
1. Pemenang Call for papers*
2. Nezar Patria, Pemimpin Redaksi the Jakarta Post
3. Ninuk Pambudy, Pemimpin Redaksi Harian Kompas
Moderator : Andy Muhyidin, Liputan 6    

Konferensi Nasional Sesi III: Menemukan model bisnis untuk media di Indonesia
1. Pemenang Call for papers*
2. Wenseslaus Manggut, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI)
3. Titin Rosmasari, Pemimpin Redaksi CNN TV
Moderator : Aloysius Budi Kurniawan, Harian Kompas

-Bagi yang berminat mengikuti konferensi nasional ini, silakan mendaftar secara online melalui: http://bit.ly/konferensi-AJI atau mengirimkan email Registrasi ke: sekretariat@ajiindonesia.or.id sampai tanggal 5 Agustus 2019 dengan Subyek: Registrasi Peserta Konferensi Nasional.

  • Panitia menyediakan sertifikat bagi peserta yang mengikuti konferensi secara penuh
  • Informasi silakan kontak Sekretariat AJI Indonesia Jl. Sigura Gura No.1, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan 12760 Telepon: 021-22079779