Koalisi Masyarakat Bengkulu: Omnibus Law Tidak Memihak Lingkungan

BENGKULU – Koalisi Masyarakat Bengkulu menggelar aksi penolakan RUU Omnibus Law Cipta Kerja, di Simpang Lima Kota Bengkulu, Selasa [08/9/2020] sore pukul 15.00 WIB.

Koordinator aksi koalisi, Uli Arta Siagian mengatakan, kehadiran aturan tersebut hanya akan meningkatkan eskalasi konflik agraria di Bengkulu. Sebab, dalam rancangannya tidak memihak kelestarian lingkungan dan kemaslahatan kaum buruh, petani, jurnalis maupun masyarakat cilik. Pihak yang diuntungkan adalah korporasi.

Uli memberikan contoh poin-poin yang akan berpihak kepada korporasi dalam draf RUU Omnibus Law, yaitu Pasal 24 sampai 29. Pasal ini membahas soal amdal dan izin lingkungan. Izin lingkungan jadi bagian izin usaha, sedangkan amdal bukan lagi menjadi prasyarat, tapi cuma faktor mempertimbangkan.

“Padahal sebelumnya amdal dan izin lingkungan menjadi syarat izin usaha. Bahkan tanpa amdal, izin lingkungan tak bisa terbit. Fakta ini menunjukkan kualitas yang menurun,” katanya.

Koalisi juga menilai, RUU terlalu memihak pelaku usaha minerba [mineral batubara]. Pasal 40 tentang Ketentuan Undang-Undang Mineral dan Batubara Nomor 4 Tahun 2009, juga pada Pasal 83 poin H yang berisi jangka waktu kegiatan usaha pertambangan khusus batubara, dalam undang-undang ini diberikan selama 30 tahun, lalu dapat diperpanjang setiap 10 tahun hingga seumur hidup.

“Hal ini menjadi kabar baik bagi pelaku pertambangan,” terangnya.

Aturan baru tersebut, kata Uli, sangat merugikan masyarakat Bengkulu. Sebab, potensi batubara Bengkulu berada di kawasan hulu di bentang Bukit Barisan yang saat ini masih menjadi kawasan hutan.

“Dengan mudahnya izin pertambangan, Bengkulu akan terancam pembongkaran hutan. Hal ini akan menimbulkan bencana ekologis, misalnya banjir dan longsor,” paparnya. (Baca selengkapnya)

aji bengkulu

Dibuka; Online Holistic Safety Training for Journalists

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia mengundang seluruh jurnalis di Indonesia, untuk mengikuti program “Online Holistic Safety Training”.

Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran jurnalis agar menjalankan profesi dengan aman dari aspek fisik, digital, hukum dan psikososial, dengan memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan antisipasi serta mitigasi kekerasan fisik, digital, hukum, dan psikososial.

Diharapkan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, risiko kekerasan dan dampak kekerasan dapat diminimalisasi kepada jurnalis, sehingga jurnalis memiliki rasa aman ketika menjalankan profesinya.

Pelatihan akan diadakan dalam 3 (tiga) periode. Masing-masing periode akan diikuti oleh 20 orang jurnalis, dan untuk periode pertama akan diselenggarakan dalam platform online.

Program apakah ini?

Ini merupakan program peningkatan kapasitas jurnalis untuk memahami aspek keamanan fisik, digital, hukum, dan psikososial dalam menjalankan profesinya sebagai jurnalis.

Peserta akan diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam mengantisipasi berbagai bentuk kekerasan baik fisik, digital, hukum, maupun psikososial dengan memperhatikan aspek bentuk ancaman dan kebutuhan skill khusus pada jurnalis perempuan.

Pelatihan online akan diadakan selama 2 (dua) minggu untuk menyelesaikan 20 modul yang telah disusun oleh tim trainer berpengalaman di bidang keamanan fisik, digital, hukum, dan psikososial. Pelatihan ini akan dilakukan melalui berbagai platform online untuk pertemuan, diskusi, dan praktikum termasuk ruang kelas virtual.

Siapa yang dapat menjadi peserta?

Jurnalis di seluruh wilayah Indonesia dari berbagai platform media (cetak/online, televisi, dan radio) dengan pengalaman kerja minimum 2 tahun. Program ini akan diberikan kepada 20 jurnalis terpilih dalam setiap periode pelatihan.

Bagaimana cara menjadi peserta kegiatan ini?

Untuk dapat menjadi peserta, anda dapat mengisi dan mengirimkan formulir lamaran dan
usulan liputan yang ada dalam Form ini: http://bit.ly/daftar_holisticsafety

Batas waktu penerimaan formulir pada tanggal 14 September 2020. Setelah terpilih menjadi peserta, anda akan diminta untuk mengirimkan CV terbaru dan surat rekomendasi dari redaktur untuk mengikuti kegiatan ini.

Bagaimana proses setelah seleksi?

Peserta terpilih akan mengikuti training selama 2 minggu secara online. Peserta akan diberikan pembekalan di awal untuk memahami metode dan struktur online platform yang digunakan.

Panitia akan mengirimkan pemberitahuan resmi mengenai terpilih atau tidaknya jurnalis yang sudah mendaftar dalam program ini.

Perlu informasi lebih lanjut?

Jika rekan-rekan membutuhkan informasi lebih jelas terkait topik ataupun informasi lainnya, silakan mengirim email ke: onlinecourse@ajiindonesia.or.id dengan subjek: Holistic Safety Training

The Journalist Fellowship Program 2020

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia bekerjasama dengan Maverick mengadakan The Journalists Fellowship Program untuk membantu seluruh jurnalis yang terdampak pandemi Covid-19.

Inisiasi ini berupa dukungan kepada para jurnalis untuk dapat tetap berkarya dan mendapatkan pemasukan. Gagasan program yang akan berlangsung selama lima pekan ini didukung penuh oleh AQUA, dan disponsori oleh Jenius serta partisipasi dari Nutrifood.

Bagaimana teknis untuk berpartisipasi? Simak ketentuannya di bawah ini.

Ketentuan Peserta

  1. Peserta adalah jurnalis yang masih bekerja atau sebelumnya pernah bekerja di media massa, baik tingkat nasional maupun daerah
  2. Peserta sudah bekerja sebagai jurnalis setidaknya selama tiga tahun
  3. Peserta terkena dampak kebijakan efisiensi perusahaan dengan tidak menerima gaji, menerima pemotongan gaji, atau dirumahkan (PHK)
  4. Menyertakan bukti terkena dampak kebijakan (disertakan dalam format PDF atau JPG) dan mengisi formulir dan melampirkan seluruh dokumen persyaratan yang terdapat pada Google Form selambat-lambatnya pada tanggal 8 September 2020, pukul 19.00 WIB.
    Link Google Form : bit.ly/JournalistFellowshipProgram
  5. Apabila calon peserta ada pertanyaan lebih lanjut, bisa mengirimkan pertanyaannya ke award@ajiindonesia.or.id
  6. Berkomitmen penuh untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan program dan menyelesaikan semua kewajiban

Dokumen yang diperlukan:

  1. Formulir pendaftaran yang telah diisi lengkap dan ditandatangan
  2. Foto diri tampak depan
  3. Foto Press ID terakhir
  4. Curriculum Vitae
  5. Bukti jelas yang menunjukan dampak efisiensi yang diterima oleh peserta, bisa dalam bentuk surat, email, atau pesan WhatsApp dari manajemen perusahaan
  6. Dua contoh artikel terbaik yang ditulis oleh peserta dan telah dipublikasikan oleh media tempat peserta bekerja
  7. Surat persetujuan dari editor media tempatnya bekerja. Namun bagi yang sudah tidak bekerja, bisa menyertakan surat persetujuan dari media yang akan mempublikasikan hasil liputan peserta

Kewajiban Peserta selama Program

  1. Menulis 3-5 artikel dengan menggunakan berbagai angle, dimana nantinya artikel ini akan dipadukan menjadi 1 artikel mendalam (in-depth) dengan waktu penyelesaian maksimal 1 minggu sebelum program selesai
  2. Mempublikasikan tulisan-tulisan tersebut di media tempat peserta bekerja atau sebelumnya bekerja, atau media prominen lain yang ada di jejaring peserta masing-masing, maksimal 1 minggu setelah program berakhir
  3. Menghadiri seluruh online training maupun sharing session yang dijadwalkan selama program
  4. Secara aktif berpartisipasi berbagi pengalaman positif selama mengikuti program dan seluruh aktivitas yang dijalani melalui akun media sosial masing-masing
  5. Bersikap profesional serta menjaga nama baik seluruh pihak yang terlibat dalam dan selama penyelenggaraan program

Manfaat yang diterima Peserta

  1. Uang tunai Rp4.500.000,- dengan sistem pembayaran sebagai berikut:
    – 30% selambat-lambatnya 1 minggu setelah program berjalan
    – 70% selambat-lambatnya 1 minggu setelah setelah artikel yang ditulis dipublikasikan
  2. Online training maupun sharing session untuk meningkatkan hard skill dan soft skill dengan narasumber yang merupakan para ahli di bidang jurnalistik dan beberapa industri
  3. Pendampingan dan konsultasi selama program oleh jurnalis senior
  4. Produk dan merchandise dari sponsor
Catatan penting:
  1. Seluruh dokumen agar dikirimkan dalam bentuk PDF dan/atau JPG dengan penamaan yang jelas per dokumennya
  2. Besar keseluruhan lampiran agar tidak melebihi 3MB

Pandemi Covid-19 Picu Lonjakan Klaim JHT di Indonesia

Webinar Jaminan Sosial di Era Pandemi seri dua dengan tema Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang digelar Aliansi Jurnalis Independen bekerjasama dengan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dan Friedrich Ebert Stiftung (FES), Rabu, 26 Agustus 2020, terselanggara dengan sukses.

Sebanyak 91 peserta dari berbagai provinsi di Indonesia ikut berpartisipasi, baik melalui layanan konferensi video berbasis Cloud Computing (Zoom) maupun situs web berbagi video Youtube.

Iene Muliati, anggota DJSN yang hadir menjadi narasumber dalam webinar menyebutkan hingga Mei 2020, tercatat sudah ada 49,86 juta pekerja yang menjadi peserta BPJS-TK dari 663.119 pemberi kerja atau badan usaha. Angka ini masih belum sepenuhnya mencakup jumlah tenaga kerja Indonesia yang berpotensi menjadi peserta yakni sebanyak 90,9 juta jiwa. “Jadi masih banyak pekerja kita yang belum terproteksi,” kata Iene.

Padahal, kata Iene, akibat pandemi Covid-19, telah ada lebih dari 5,8 juta orang mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari berbagai sektor. “Dampak dari inilah yang memicu lonjakan kenaikan klaim JHT (Jaminan Hari Tua),” kata Iene.

Menurut Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan Sumarjono dari data mereka setidaknya hingga Juni 2020 memang sudah ada 284.488 orang pekerja yang telah melakukan pencairan JHT, atau jika dirinci ada lebih dari 9,400 orang yang melakukan klaim JHT di seluruh Indonesia dalam sehari.

“Berdasarkan klasifikasi klaim JHT, sebanyak 78 % adalah mereka yang mengundurkan diri, sisanya 20 persen PHK dan baru yang lainnya,” ujar Sumarjono.

Sejauh ini, Sumarjono mengaku, untuk mengoptimalkan pelayanan selama pandemi Covid-19, pihaknya telah merancang sebuah layanan khusus bernama Lapak Asik (Layanan Tanpa Kontak Fisik) agar pengguna tetap dapat menikmati layanan klaim JHT mereka.

“Jadi ada tiga pola yang diterapkan di Lapak Asik, yakni layanan klaim online, kolektif perusahaan dan layanan offline di kantor cabang,” kata Sumarjono.

Dengan itu, ia berharap, layanan itu tetap dapat membantu para pekerja yang terdampak Covid-19. Termasuk pula membantu para pemberi kerja dengan kebijakan relaksasi iuran.

Webinar nasional yang difasilitasi AJI Bengkulu dengan supervisi AJI Indonesia ini, berlangsung selama dua jam dan menjangkau hampir ke seluruh Indonesia. Acara ini melibatkan beragam kalangan dari jurnalis, akademisi, mahasiswa, hingga ke masyarakat umum.

Event ini merupakan sesi kedua dari empat diskusi webinar yang akan digelar. “Dan khusus sebagai apresiasi kami bagi jurnalis. AJI juga akan memberikan beasiswa liputan mengenai isu jaminan sosial untuk jurnalis yang berminat,” kata Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo.

Untuk teknisnya, AJI akan memilih 25 proposal liputan yang terbaik untuk diseleksi. Baru kemudian selama proses peliputan dan penulis, jurnalis terpilih akan mendapatkan pendampingan (mentoring) dari AJI Indonesia.

Dana Hibah untuk Liputan Mendalam Jaminan Sosial

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dengan dukungan Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) dan Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), membuka peluang bagi jurnalis media online, cetak, televisi, dan radio mengajukan dana hibah untuk peliputan mendalam (in-depth) menyoroti isu jaminan sosial nasional di masa Pandemi Covid-19.

Syarat umum

  1. Mengikuti rangkaian webinar yang diadakan AJI-DJSN-FES pada tanggal sbb:
    19 Agustus 2020 dengan tema Kesetaraan Manfaat Bagi Peserta BPJS Kesehatan
    26 Agustus 2020 dengan tema “Jaminan Sosial Ketenagakerjaan di Masa Pandemi Covid-19”
    2 September 2020 dengan tema “Pentingnya Manfaat Program JKK Return to Work
    9 September 2020 dengan tema “Jurnalisme (Berbasis) Data: Memaknai data publik dalam sistem jaminan sosial”
  2. Memilih salah satu tema diskusi webinar sebagai usulan liputan
  3. Membuat liputan indepth dan melaporkannya dalam bentuk tulisan in-depth (laporan mendalam)
  4. Mendapat dukungan dari media masing-masing untuk mempublikasikan karya jurnalistik yang dihasilkan dengan mengirimkan surat dukungan dari penanggung jawab redaksi masing-masing

Ketentuan:

  1. Peserta mengisi proposal liputan yang tajam dan menarik melalui link google form: https://bit.ly/journalismgrantSJSN.
  2. Penyelenggara akan melakukan seleksi terhadap seluruh proposal liputan yang diajukan.
    Panitia akan memilih 25 usulan tema yang paling menarik, untuk mendapatkan beasiswa peliputan masing-masing senilai Rp3,000,000,-.
  3. Peserta terpilih akan mendapatkan asistensi dari mentor selama proses peliputan. Mentor akan dipilih oleh penyelenggara.
  4. Deadline pengiriman proposal liputan adalah tanggal 18 September 2020.
  5. Maksimal waktu peliputan dan penulisan adalah satu bulan. Jika lebih dari tenggat waktu naskah masih belum tayang, penyelenggara berhak mencabut dan membatalkan beasiswa peliputan.
  6. Jika ada informasi lain yang ingin ditanyakan, silakan kontak Sekretariat AJI Indonesia melalui email: beasiswa.aji@gmail.com atau Putri melalui email putri.tirtasari@ajiindonesia.or.id, dengan subjek: Journalism Grant SJSN.
Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo dalam sambutan MoJo Universitas Dehasen-AJI Bengkulu.Foto AJI Bengkulu

Praktik MoJo Memudahkan Kerja Jurnalistik

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, kembali menggelar kegiatan kursus singkat Mobile Journalism (MoJo), Sabtu 14 Desember 2019, pukul 10.00 WIB.

Kegiatan yang berlangsung di aula lantai IV, Universitas Dehasen Bengkulu tersebut, melibatkan 108 peserta dari kalangan mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi di Bengkulu.

Seperti, mahasiswa/i Fakultas Ilmu-ilmu Sosial universitas Dehasen, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, IAIN Curup, kabupaten Rejang Lebong dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bengkulu.

AJI Bengkulu sebelumnya telah menggelar kegiatan kursus singkat MoJo, pada Kamis, 05 Desember 2019. Pada kegiatan itu melibatkan 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, blogger, youtuber dan content creator Bengkulu yang digelar di Boombaru Resto kota Bengkulu.

Sebanyak 155 peserta mendaftarkan diri, sejak pendaftaran secara online melalui form google dibuka pada Kamis, 5 Desember 2019 hingga Rabu, 11 Desember 2019.

”Peserta yang dinyatakan lolos sesuai dengan kriteria untuk mengikuti short course and Practice-MoJo, Universitas Dehasen-AJI Bengkulu, sebanyak 108 peserta,” kata Koordinator Bidang Pendidikan AJI Bengkulu, Demon Fajri, Sabtu (14/12/2019).

Pada kursus singkat tersebut, sampai Demon, seluruh peserta mendapatkan materi berupa, journalism by the people yang disampaikan Dedek Hendry, selaku ketua AJI Bengkulu, periode 2015-2019/Jurnalis The Jakarta Post.

Lalu, phonegraphy/fotoponsel disampaikan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu, Komi Kendy Settiawaty dan Ketua AJI Bengkulu periode 2019-2022, Harry Siswoyo.

Sementara materi mobile journalism disampaikan Heri Aprizal, Koodinator Bidang Komunikasi dan Data AJI Bengkulu/Redaktur surat kabar harian (SKH), Rakyat Bengkulu.

”Ini merupakan kegiatan pelatihan pertama kali digelar AJI Bengkulu di perguruan tinggi. Dehasen merupakan kampus pertama yang membuka diri untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa/i dalam Mobile Journalism,” terang jurnalis okezone.com ini.

”Dari kursus singkat ini diharapkan dari mahasiswa/i dapat membentuk komunitas berbasis jurnalis warga dengan mengedepankan etika,” sampai Demon.

Ratusan mahasiswa/i ikuti Short Course and Practice-Mobile Journalism (MoJo), Universitas Dehasen-AJI Bengkulu, Sabtu 14 Desember 2019. Foto AJI Bengkulu.

MoJo Memudahkan Kerja Jurnalistik
Jurnalisme sejatinya memang milik semua orang. Karena itu siapa pun bisa melakukannya. Hanya saja memang ada nilai-nilai yang mesti dipatuhi. Salah satunya adalah verifikasi. Dengan itu, produk jurnalise dalam bentuk apa pun bisa dipercaya dan bukan tidak mungkin mendorong perubahan sosial.

Short Course and Practice-Mobile Journalism (MoJo), adalah salah satu contoh terapan praktik jurnalisme yang bisa dilakukan siapa pun. Berbekal telepon pintar, dan sentuhan nilai jurnalisme maka ini akan menjadi sebuah karya yang bisa dipercaya.

Bagi jurnalis, kata Ketua aliansi jurnalis independen (AJI) Bengkulu, Harry Siswoyo, jelas dengan menerapkan praktik MoJo akan bisa memudahkan kerja-kerja jurnalistik yang kian hari makin banyak duversifikasinya.

Di sisi lain, bagi mahasiswa atau masyarakat MoJo juga akan memudahkan. Setidaknya untuk mendokumentasikan sebuah aktivitas atau untuk mengkampanyekan sesuatu bagi kepentingan publik.

”Terima kasih untuk Universitas Dehasen Bengkulu, yang telah menjadi tuan rumah. AJI secara kelembagaan mengapresiasi semangat Dehasen sebagai mitra AJI. Semoga semangat ini bisa menularkan kepada kampus lain untuk juga ikut menguatkan kapasitas mahasiswanya, khususnya dalam era digital hari ini,” kata Harry.

MoJo Berhubungan dengan Mata Kuliah
Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Dehasen Bengkulu, Asnawati mengatakan, kursus singkat MoJo Universitas Dehasen-AJI Bengkulu merupakan salah satu bentuk output kerjasama AJI Bengkulu dengan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, beberapa waktu lalu.

MoJo, kata Asnawati, sangat bermanfaat mahasiswa/i universitas Dehasen, Khususnya, fakultas ilmu-ilmu sosial. Di mana kursus singkat MoJo banyak sekali yang berhubungan dengan mata kuliah ilmu komunikasi. Baik mengenai jurnalis, fotografi serta lainnya.

Melalui MoJo, terang Asnawati, nantinya mahasiswa/i dapat memanfaatkan teknologi melalui smartphone dengan baik dan beretika.

”Saya berharap pelatihan ini dapat diikuti peserta sampai selesai. Gali-lah ilmunya dari pakar-pakar AJI Bengkulu,” terang Asnawati.

Ditambahkan Rektor Universitas Dehasen Bengkulu, Prof. Johan Setiantoas, pada saat ini stigma masyarakat sudah berubah. Jika sebelumnya masyarakat membaca informasi melalui media massa atau koran. Namun, pada era milenial masyarakat sudah bergeser ke media online melalui berbagai platform.

”Kalau tidak bergeser ke sana (media online) maka akan ketinggalan,” jelas Johan.

Pada era milenial, sampai Johan, saat ini setiap orang bisa melaporkan sesuatu kejadian secara langsung, dengan menggunakan berbagai platform. Sehingga informasi tersebut cepat menyebar ke dunia maya.

Dahulu, tambah Johan, pepatah mengatakan mulut mu harimau mu. Namun, pada saat ini jempol mu adalah harimau mu. Dari itu, harap Johan, perlu adanya etika dalam penyampaian informasi ke dunia maya yang disebar melalui berbaga[i platform.

”Internet ada sisi positif dan negatif. Namun, kita harus tahu apa yang layak diberikan ke publik apa yang tidak boleh diberikan ke publik. Melalui MoJo ini setidaknya jurnalis warga dapat beretika dalam penyampaikan informasi ke dunia maya,” sampai Johan.

Kursus singkat Mobile Journalism (MoJo)-AJI Bengkulu, Kamis, 05 Desember 2019. Foto AJI Bengkulu

AJI Bengkulu Inisiasi Pelatihan MoJo

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu menggelar kegiatan kursus singkat Mobile Journalism (MoJo), Kamis, 05 Desember 2019. Kegiatan yang melibatkan 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, blogger, youtuber dan content creator Bengkulu ini digelar di Boombaru Resto.

Koordinator Bidang Pendidikan AJI Bengkulu, Demon Fajri mengatakan, kursus singkat gratis ini sebagai bagian dari misi edukasi AJI, khususnya terkait penggunaan telepon pintar yang hari ini telah menjadi satu kebutuhan penting setiap orang.

Metode pelatihan ini akan menggunakan pola pemaparan dan diskusi serta praktik singkat penerapan telepon seluler sebagai alat untuk mendokumentasikan apa pun, tentunya dengan sentuhan jurnalisme.

“Peserta diberikan tips penulisan naskah, reportase, pengambilan video, grafis dan editing,” kata Demon.

Pendaftaran kursus singkat Mobile Journalism yang digelar AJI Bengkulu, dilakukan secara daring yang dibuka sejak Minggu, 1 Desember 2019. Total pendaftar sejak dibuka hingga Senin, 2 Desember 2019 tercatat telah melebihi kuota yakni 64 orang.

Dengan rincian, jurnalis sebanyak 19 orang, mahasiswa/i 30 orang, blogger empat orang, Vlogger lima orang dan umum sebanyak enam orang.

“Namun, 30 peserta yang dinyatakan lolos seleksi. Itu sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan,” kata Demon.

Pelatihan yang difasilitasi oleh Koordinator Bidang Komunikasi dan Data AJI Bengkulu, Heri Aprizal berharap dapat melahirkan inisiasi komunitas MoJo di Bengkulu. Sehingga menjadi wadah berbagi dan belajar bersama.

“AJI siap memberikan pendampingan dan penguatan kepada para peserta ini jika ingin lebih serius kedepannya,” ujar Heri.

Jurnalisme oleh Warga
Di bagian lain, Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo menyebutkan bahwa penerapan Mobile Journalism menjadi ruang bagi publik mendapatkan kembali nilai jurnalisme yang selama ini telah hidup di masyarakat.

“Jurnalisme kini bukan cuma milik jurnalis seutuhnya. Loncatan digital lewat telepon pintar dan media sosial serta internet membuat jurnalisme kini milik setiap orang,” kata Harry.

Dedek Hendry, Ketua AJI Bengkulu, periode 2015-2019, menambahkan bahwa jurnalisme sesungguhnya memang telah ada sepanjang peradaban manusia. Sejak seorang manusia mulai bisa berkomunikasi. Sejak itu pula orang tersebut, sebenarnya telah menjadi pencari dan pengabar berita atau informasi.

Karena itu, secara manusiawi seorang manusia akan mencari dan mengabarkan berita atau informasi faktual atau benar, untuk kebaikan dirinya sendiri atau orang lain.

“Sehingga, ketika dikaitkan dengan moralitas, adalah mustahil seorang manusia yang bermoral akan mencari dan mengabarkan berita bohong, apalagi fitnah,” terang jurnalis The Jakarta Post ini.(**)

AJI Gelar Festival Media 2019

JAMBI — Festival Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hari ini resmi digelar. Gubernur Jambi Fachrori Umar membuka acara Festival media 2019 AJI di Aula Gedung Balai Diklat Provinsi Jambi, Sabtu (16/11) pagi. Didampingi Ketua AJI Indonesia Abdul Manan bersama Sekretaris Jenderal AJI Revolusi Riza, dan Ketua AJI Jambi Ramond Eka Putra, Fachrori memukul gong sebagai tanda dimulainya acara Festival Media selama dua hari ke depan.

Fachrori mengapresiasi AJI karena tahun ini menghelat kegiatan festival media di Kota Jambi. Menurutnya, tema literasi yang diangkat sangat relevan dan kontekstual menjawab dinamika perkembangan global yang ditimbulkan dari digitalisasi. Tak terkecuali dampak itu juga dialami oleh media pers.

“Sebagaimana kita ketahui saat ini kita sedang dihadapi fenomena disrupsi ,pergerakan dan perubahan yang terjadi sangat cepat. Lahirnya media baru yang lebih inovatif. Digitalisasi membawa dampak pada pemberitaan jurnalistik di mana teknologi digital bisa diakses oleh hampir semua kalangan,” kata Fachrori dalam sambutannya.

Namun lanjutnya, di tengah penyebaran informasi yang pesat tersebut, sisi negatif digitalisasi juga membawa dampak bagi kebebasan pers. Misalnya informasi yang bias yang kadang juga dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu untuk menebar provokasi.

Gubernur juga mengucapkan selamat datang kepada delegasi AJI Kota se Indonesia ke kota Jambi. Dia berharap, melalui festival media ini, selain kemampuan menulis keakraban sesama jurnalis juga makin erat. Ke depan dia berharap Jambi mendapat kepercayaan lagi untuk perhelatan media sebesar Festival Media AJI ini.

“Semoga provinsi Jambi diberi kepercayaan lagi untuk bisa melaksanakan event serupa sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk dapat berkunjung ke provinsi Jambi sepucuk Jambi sembilan lurah melalui tulisan-tulisan yang dibuat oleh saudara-saudara kita yang tergabung dalam aliansi jurnalis independen,” katanya.

Ketua AJI Abdul Manan mengatakan, festival media AJI diselenggarakan setiap tahun yang penyelenggaraannya selalu bergilir dari kota ke kota yang diadakan oleh AJI setempat. Kebetulan AJI Jambi tahun ini dipercaya menjadi tuan rumah, sementara temanya punya keterkaitan dengan cagar budaya. Jambi menurut Abdul Manan, memiliki aset cagar budaya yang luar biasa seperti kawasan candi muara Jambi.

“Jambi memiliki aset budaya yang punya sejarah panjang. Dan memang cukup menjadi masalah kita saat ini aset yang dimiliki Jambi menghadapi tantangan digitalisasi,” katanya.

Tema festival media AJI ingin mengaitkan nilai-nilai literasi yang terkandung di dalam kekayaan warisan budaya yang dimiliki Jambi. Saat ini media mengalami disrupsi yang sangat luar biasa, ditandai ditandai dengan orang berpindah ke gadget atau perangkat telepon pintar. Perubahan juga berdampak penting bagi jurnalis dan media dalam menyampaikan informasi pubik.

“Kita tidak bisa hindari ketika orang paling banyak mengakses informasi melalui media digital. Media bersaing dengan media sosial yang kerap menyebarkan hoaks. Di sinilah tantangannya, publik harus diajarkan bagaimana memeriksa fakta dan cerdas mengosumsi berita,” kata Abdul Manan.

Menurutnya informasi dari media sosial tentu berbeda dengan karya jurnalistik. Orang-orang yang menyebarkan informasi di media sosial tidak bekerja dengan kode etik jurnalistik yang menjadi panduan profesi jurnalis.

“Karena itu literasi sangat dibutuhkan, dan tema itulah sekiranya tepat kita memilih Jambi sebagai tempat acara ini. Acara ini juga salah satu cara AJI mendorong profesionalisme.” katanya.

Abdul Manan juga menyampaikan terima kasih festival media ternyata direspon antusias yang besar dari masyarakat Jambi. Kepada Gubernur Abdul Manan juga mengucapkan terima kasih atas spanduk ucapan selamat datang yang tersebar di banyak titik dari pemerintah provinsi.

“AJI memang membatasi kerjasama dengan pemerintah dalam banyak hal demi menjaga independensi dan profesionalisme. AJI cukup berterima kasih ketika acara ini disambut oleh banyak masyarakat,” katanya.

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan talkshow pemelihaan cagar budaya di era bigdata. Tiga narasumber membahas eksistensi cagar budaya di era digital. Pembicara antara lain, ISmail Fahmi Pegiat Digital Founder Drone Emprit, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Iskandar Mulia Siregar, sejarawan jurnalis AJI Wenri Wanhar.

Selain itu, sejumlah workshop juga berjalan paralel dari siang hingga sore, antara lain workshop menjadi presenter oleh Alfian Rahardjo News Anchor CNN Indonesia, workshop meliput isu lingkungan, dan workhop hoax busting and digital hygiene. (rls)

 

 

Jurnalis Itu Pejuang HAM

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu menggelar workshop bagi para jurnalis terkait isu keberagaman gender dan Hak Asasi Manusia, Minggu, 27 OKtober 2019.

Proses diskusi dan belajar bersama yang diikuti para jurnalis dari media cetak, daring dan radio ini diselenggarakan di Rumah AJI Bengkulu.

“Jurnalis memiliki peran penting menginformasikan keberagaman gender kepada publik,” ujar Phesi Ester Julikawati, fasilitator workshop dalam pemaparannya.

Keberagaman gender, kata Phesi, sampai hari ini di Indonesia memang masih menjadi sebuah bahasan pelik. Ketidaktahuan masyarakat, bahwa gender hanya semata soal perbedaan jenis kelamin, telah menjadi sebuah konstruksi sosial yang melekat.

Salah satunya kepada kelompok minoritas, Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT), dalam persepektif media. Banyak sekali bias yang cenderung bertentangan dengan semangat HAM.

Akibatnya, stigma negatif yang selama ini melakat kepada kelompok LGBT, semakin menguat dan bahkan bisa menjadi ancaman baik itu kepada kelompok LGBT ataupun kepada media atau jurnalis yang menyampaikan realitas soal LGBT.

“Padahal ini bukan soal pro atau tidak. Tapi ini tentang sebuah kelompok minoritas dalam kacamata HAM,” kata Phesi yang juga anggota Majelis Etik AJI Bengkulu.

Sementara itu, Dedek Hendry, yang juga menjadi fasilitator diskusi menambahkan bahwa, secara prinsip jurnalis adalah bagian tak terpisahkan dari HAM. Karena itu, semangat jurnalis adalah mendorong terwujudnya HAM.

“UU kita menyebut manusia, jadi bukan suku, ras, orientasi seksual atau apa pun,” katanya.

Atas itu, kata Dedek, tidak ada alasan bagi jurnalis untuk tidak menyuarakan perlindungan, pengakuan, penghormatan atau mempromosikan HAM untuk kelompok minoritas LGBT.

“Jurnalis itu pejuang HAM,” ujar Dedek.

kelompok difabel bengkulu

AJI Kenalkan Kelompok Difabel Kerja Jurnalis

RBO, BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu dan kelompok penyandang disabilitas mengunjungi kantor RB Televisi (RBTV), Jumat (11/10). Kunjungan ini merupakan bagian dari program pelatihan menulis yang dilakukan AJI Bengkulu bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas (PIK-PPD).

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Pimred RBTV, Purnama Sakti. Setelah memperkenalkan proses kerja jurnalistik, para tamu dari kalangan difabel ini diajak berkeliling untuk melihat semua ruangan dan aktifitas bagian masing-masing hingga berita bisa ditonton publik.

Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo mengatakan, tidak kurang dari 40an penyandang disabilitas yang hadir hari ini, diperkenalkan langsung dengan kerja-kerja jurnalis televisi yang selama ini sering mereka tonton. “Mereka bisa melihat langsung bagaimana media televisi bekerja mengolah berita, lalu menyajikannya kepada masyarakat,” kata Harry.

Menurut Harry, penyandang disabilitas ini sebelumnya telah diberikan pembelajaran tentang menulis, fotografi, vidiografi dan menggambar. Dari anggota penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan itu didominasi oleh tuna rungu dan daksa.

“Ini sudah pertemuan kedelapan setiap hari Jumat di Kantor Dinas Sosial Provinsi mulai pukul 14.00 WIB,” kata Harry.

selengkapnya..