kelompok difabel bengkulu

AJI Kenalkan Kelompok Difabel Kerja Jurnalis

RBO, BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu dan kelompok penyandang disabilitas mengunjungi kantor RB Televisi (RBTV), Jumat (11/10). Kunjungan ini merupakan bagian dari program pelatihan menulis yang dilakukan AJI Bengkulu bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas (PIK-PPD).

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Pimred RBTV, Purnama Sakti. Setelah memperkenalkan proses kerja jurnalistik, para tamu dari kalangan difabel ini diajak berkeliling untuk melihat semua ruangan dan aktifitas bagian masing-masing hingga berita bisa ditonton publik.

Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo mengatakan, tidak kurang dari 40an penyandang disabilitas yang hadir hari ini, diperkenalkan langsung dengan kerja-kerja jurnalis televisi yang selama ini sering mereka tonton. “Mereka bisa melihat langsung bagaimana media televisi bekerja mengolah berita, lalu menyajikannya kepada masyarakat,” kata Harry.

Menurut Harry, penyandang disabilitas ini sebelumnya telah diberikan pembelajaran tentang menulis, fotografi, vidiografi dan menggambar. Dari anggota penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan itu didominasi oleh tuna rungu dan daksa.

“Ini sudah pertemuan kedelapan setiap hari Jumat di Kantor Dinas Sosial Provinsi mulai pukul 14.00 WIB,” kata Harry.

selengkapnya..

AJI Bengkulu Gelar Belajar Menulis Bersama Difabel

Bengkulu – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas menggelar pelatihan menulis bagi kelompok difabel di Bengkulu.

Iniasi swadaya ini melibatkan lebih dari 30 penyandang disabilitas yang tersebar di Bengkulu. “Kami ingin mereka bisa menyuarakan tentang mereka lewat menulis,” ujar Ketua PIK-PPD Irna Riza Yuliastuti, Jumat, 23 Agustus 2019.

Pelatihan ini akan digelar secara bertahap dengan pertemuan sepekan sekali. Sebagai pembelajaran awal, kelompok difabel akan diajak mengenal metode menulis sederhana dengan menggunakan metodologi perencanaan ide, lalu penyusunan outline dan mengemas ide tulisan dalam sebuah draft tulisan.

Proses belajar ini akan berlangsung terus menerus hingga kelompok difabel dianggap telah mampu memproduksi sebuah karya tulisan. Setelah ini, baru kemudian kelompok difabel akan belajar bersama mengenai teknik fotografi dasar, lalu videografi dan bahkan menggambar objek.

AJI Bengkulu juga membuka diri kepada para pihak untuk dapat berkolaborasi menguatkan kelompok difabel berdasarkan kompetensi yang dimiliki. “Semua bisa berbagi pengetahuan. Tinggal dikolaborasikan,” ujar Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo.