Jurnalis Itu Pejuang HAM

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu menggelar workshop bagi para jurnalis terkait isu keberagaman gender dan Hak Asasi Manusia, Minggu, 27 OKtober 2019.

Proses diskusi dan belajar bersama yang diikuti para jurnalis dari media cetak, daring dan radio ini diselenggarakan di Rumah AJI Bengkulu.

“Jurnalis memiliki peran penting menginformasikan keberagaman gender kepada publik,” ujar Phesi Ester Julikawati, fasilitator workshop dalam pemaparannya.

Keberagaman gender, kata Phesi, sampai hari ini di Indonesia memang masih menjadi sebuah bahasan pelik. Ketidaktahuan masyarakat, bahwa gender hanya semata soal perbedaan jenis kelamin, telah menjadi sebuah konstruksi sosial yang melekat.

Salah satunya kepada kelompok minoritas, Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT), dalam persepektif media. Banyak sekali bias yang cenderung bertentangan dengan semangat HAM.

Akibatnya, stigma negatif yang selama ini melakat kepada kelompok LGBT, semakin menguat dan bahkan bisa menjadi ancaman baik itu kepada kelompok LGBT ataupun kepada media atau jurnalis yang menyampaikan realitas soal LGBT.

“Padahal ini bukan soal pro atau tidak. Tapi ini tentang sebuah kelompok minoritas dalam kacamata HAM,” kata Phesi yang juga anggota Majelis Etik AJI Bengkulu.

Sementara itu, Dedek Hendry, yang juga menjadi fasilitator diskusi menambahkan bahwa, secara prinsip jurnalis adalah bagian tak terpisahkan dari HAM. Karena itu, semangat jurnalis adalah mendorong terwujudnya HAM.

“UU kita menyebut manusia, jadi bukan suku, ras, orientasi seksual atau apa pun,” katanya.

Atas itu, kata Dedek, tidak ada alasan bagi jurnalis untuk tidak menyuarakan perlindungan, pengakuan, penghormatan atau mempromosikan HAM untuk kelompok minoritas LGBT.

“Jurnalis itu pejuang HAM,” ujar Dedek.

Posted in Berita and tagged , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *