Kepada Yang Terhormat Bapak Joko Widodo

September 2015

Kepada Yang Terhormat Bapak Joko Widodo
Presiden Republik Indonesia

Istana Merdeka
Jakarta Pusat 10110, Indonesia

CC: General Badrodin Haiti, Kepala Polisi RI

Bapak Presiden Joko Widodo Yang Terhormat,

Kami, International ¿Cuánto cuesta el original Viagra? Partnership Mission for Indonesia (IPMI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), mendesak Anda untuk memerintahkan investigasi komprehensif terhadap kasus pembunuhan wartawan Muhammad Syafruddin (Udin).

Udin, wartawan surat kabar harian Bernas di Yogyakarta, diserang oleh dua orang di depan rumahnya pada tanggal 13 Agustus 1996. Dia meninggal tiga hari kemudian karena luka parah. Investigasi polisi pada awalnya berfokus pada dugaan adanya perselingkuhan yang kemudian terbukti salah.

Investigasi independen yang dilakukan oleh beberapa lembaga termasuk AJI menemukan bukti bahwa pembunuhan itu berkaitan dengan laporan Udin tentang korupsi dan pemilihan bupati. Pada Desember 2014, IPMI mengeluarkan rekomendasi tentang kebebasan berekspresi di Indonesia, termasuk perlunya pemerintah Indonesia membuka kembali investigasi pembunuhan Udin dan mengalokasikan sumber daya untuk mengidentifikasi dan menghukum pembunuh Udin.

Meskipun Pengadilan Negeri Sleman memutuskan bahwa Kasus Udin masih terbuka, masih ada tanda-tanda kemajuan atau indikasi bahwa pemerintah menyadari kasus ini sebagai prioritas.

Kekerasan terhadap jurnalis merupakan pelanggaran terhadap hak berekspresi dan impunit. as bagi pembunuhan terhadap jurnalismengancam demokrasi Indonesia. Sembilan belas tahun lalu, pembunuhan Udin yang tidak terkuak membuat posisi Indonesia dalam HAM dipertanyakan. Ketidaktegasan pemerintah akan melanggengkan impunitas dan dalam Kasus Udin, hal ini telah membuat keluargan teman, dan kolega dalam posisi tanpa keadilan selama hampir dua dasarawarsa.

Kasus Udin yang tidak teratasi bukanlah kasus tunggal, namun juga merefleksikan budaya impunitas terhadap kekerasan terhadap jurnalis secara lebih luas.

IPMI merasa perlu untuk mengulang sekali lagi bahwa Indonesia memilikikewajiban di bawah The International Covenant on Civil and Political Rights untuk menyidik Kasus Udin dengan baik, dan melindungi hak jurnalis untuk melakukan tugasnya dengan aman. Kami mendesak Anda untuk menekan Polisi Republik Indonesia untuk memulai penyidikan terhadap pembunuh Udin. Kami juga mendesak pemerintah Indonesia untuk menginvestigasi kesalahan penanganan dalam investigasi sebelumnya seperti diatur oleh Mahkamah Konstitusi.

Rekomendasi lengkap bagi perlindungan kebebasan berekspresi di Indonesia bisa ditemukan di bawah ini>

[ARTICLE 19, Committee to Protect Journalists,
Center for Law and Democracy, International Federation of Journalists, International Media Support, Southeast Asian Press Alliance]
Yang menandatangani:

ARTICLE

Committee to Protect Journalists
Centre for Law and Democracy
International Federation of Journalists
International Media Support
Southeast Asian Press Alliance
Open Society Foundations
Tifa Foundation
LBH Pers Indonesia Network

STRUKTUR PENGURUS AJI BENGKULU 2015

Ketua : Dedek Hendry
Sekretaris : Phesi Ester Julikawati

Koordinator Bidang Ketenagakerjaan : Betty Herlina
Anggota: Arie Saputra

Koordinator Bidang Usaha : LisaRosari
Anggota : Hery Aprizal

Koordinator Bidang Advokasi : Firmansyah
Anggota: Yunike Karolina

Koordinator Bidang Pendidikan : Hidi Christopher
Anggota: Yasrizal

Koordinator Bidang Perempuan : Lorni Antonia Sinaga
Anggota: Komi kamagra 100 oral jelly Kendy

Koordinator Bidang Organisasi : Demon Fajri
Anggota: AJI Asmuni

Koordinator Bidang Komunikasi dan Data : Ricky Jenihansen
Anggota: Ongwie Hocky

MPO : Komi Kendy, Lisa Rosari dan Hidi Christopher
BPK : Hery Aprizal, Arie Saputra dan Ricky Jenihansen
Majelis Etik : Lorni Antonia Sinaga, Firmansyah dan Harry Siswoyo

AJI Dorong Publik Lebih Cerdas Memilih Media

Jakarta – Jumlah media di Indonesia saat ini, menurut taksiran Dewan Pers sampai 2014, sekitar 2.338. Sebanyak 567 merupakan media cetak, radio 1.166, TV 394, media siber 211. Itu adalah salah satu sumber informasi untuk masyarakat. Namun, sumber lain yang juga tak kalah penting adalah media dalam platform lain, seperti twitter, facebook, grup Blackberry, group WhattsApp, email, instagram dan lainnya yang jumlah pemakainya jauh lebih banyak lagi.

Menurut Ketua Umum AJI, Suwarjono, berjibunnya informasi dari beragam media itu merupakan dampak dari perkembangan teknologi yang tak terhindarkan. Padahal, tak semua informasi yang disampaikan berbagai platform media itu baik untuk dikonsumsi publik. Itulah sebabnya dalam ulang tahun yang ke-21 ini AJI memilih tema “Cerdas Memilih Media.”

Acara puncak peringatan HUT AJI ke-21 akan digelar Jumat, 4 September 2015, pukul 18.00 – 21.30 WIB di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail di Jl. Rasuna Said kav. C-22, Kuningan, Jakarta Selatan. Dalam acara itu juga ada pameran foto dan seni rupa, pengumuman Penghargaan Udin Award, Tasrif Award, SK Trimurti Award 2015, serta orasi kebudayaan yang akan disampaikan oleh Buya Syafii Maarif, mantan Ketua PP Muhammadiyah.

Udin Award diberikan kepada jurnalis yang menjadi korban tindak kekerasan karena menjalankan tugasnya. Tasrif Award diberikan kepada setiap individu atau lembaga yang telah memberikan kontribusi untuk pemberantasan korupsi, perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM) atau memajukan demokrasi di Indonesia. Sedangkan SK Trimurti Award diberikan kepada jurnalis atau aktivis perempuan yang dinilai gigih membela kepentingan publik.

Tema ini juga yang akan dipakai AJI dalam acara Festival Media ke-4 pada 14-15 November 2015 apotheek24h mendatang. Kegiatan tahunan itu akan dipusatkan di Kampus Universitas Atmajaya, Jakarta. Festival Media diisi dengan sejumlah workshop dengan berbagai tema, pameran media, pemutaran film, dan aneka lomba. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan bisa mendorong masyarakat mengetahui apa yang terjadi di balik media dan berperan aktif dalam mengawasinya.

AJI menilai apa yang terjadi saat ini sebagai “era air bah informasi,” di mana informasi yang datang dari gadget teknologi yang kita miliki, serta TV, radio, media online dan cetak, datang dari pagi sampai petang dengan jumlah berjibun. “Kita sebagai masyarakat harus cerdas dan paham mana informasi yang bermutu dan tidak, mana yang berita sampah, mana yang layak dikonsumsi serta disebarkan ke masyarakat. Dengan teknologi sekarang, kita dihadapkan pada pilihan informasi yang sedemikian banyak,” kata Suwarjono.

Pengetahuan akan informasi yang benar itu penting agar publik bisa memilah informasi, apakah itu informasi yang benar, berita sampah, atau hanya informasi yang menyesatkan. Dengan pengetahuan seperti itu, kata Suwarjono, publik diharapkan cukup bijak untuk bersikap, apakah perlu menyebarluaskannya atau tidak. “Menyeberluaskan informasi salah, tak mendidik, itu merugikan publik. Dan itu juga bisa membuat seseorang terjerat Undang Undang Informasi dan Teknologi Informasi dengan pasal pencemaran nama baik,” kata Suwarjono.

Informasi tak mendidik, menyesatkan, atau sampah, bisa datang dari berbagai platform media. Penyebabnya, salah satunya, adalah persaingan bisnis. “Industri sedang berkembang dan ada tuntutan tinggi mengejar oplah, traffic kunjungan, page vews dan rating. Gara-gara itu sejumlah media kadang melakukan segala cara, yang penting beritanya disukai pembaca. Padahal tak semuanya sebenarnya layak tayang, tak semuanya mendidik, seperti disyaratkan Undang Undang Pers,” kata Suwarjono. “Banyak media sekarang yang tidak memberikan itu, tapi hanya sekadar mengejar traffic, oplah, rating dan lain-lain.”

Ancaman dari Dalam

Sebagai refleksi atas usia AJI yang sudah lebih dari dua dekade, ada sejumlah isu penting yang menjadi catatan bagi organisasi yang lahir pada 7 Agustus 1994 ini. Pertama, soal kebebasan pers, yang masih tak bisa dibilang menggembirakan. Kedua, isu profesionalisme jurnalis dan media. Ketiga, kesejahteraan jurnalis yang juga belum sesuai harapan.

Ada sejumlah hal yang dianggap AJI sebagai ancaman bagi kebebasan pers. Antara lain, jumlah kasus kekerasan yang masih cukup banyak dan sejumlah kebijakan pemerintah yang tak sejalan dengan iklim kebebasan pers. Kasus kekerasan terhadap jurnalis selama 2014 sebanyak 40 kasus. Selain itu, kata Suwarjono, yang juga jadi ancaman adalah praktik media abal-abal. “Saat ini kebebasan pers diboncengi oleh orang-orang yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Inilah yang muncul dalam bentuk media abal-abal,” kata Suwarjono.

Ancaman lain bagi kebebasan pers juga datang dari dalam media sendiri, yaitu kepentingan pemilik media. Ini ditandai dengan sikap pemodal media yang menggunakan media yang dimilikinya untuk kepentingan politik. Sikap semacam ini terlihat sangat jelas dari berbagai tayangan dan pemberitaan media selama pemilihan umum legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden 2014 lalu. “Ini yang membuat media bersikap partisan dalam politik,” kata Suwarjono.

Selain itu, AJI juga mencatat dengan was-was soal monpoli kepemilikan media. Trend yang terjadi sudah cukup lama dan kian terasa belakangan ini merupakan trend yang berdampak besar dalam jangka panjang. “Ini trend cukup membahayakan. Sebab, praktik monopoli media oleh sejumlah kelompok bisnis saja membuat informasi yang disampaikan (melalui media) kepada masyarakat jadi seragam,” kata Suwarjono

Profesionalisme juga menjadi tantangan sendiri di media kita saat ini. Ada sejumlah isu profesionalisme yang ditemukan. Antara lain, pelanggaran terhadap etika dasar jurnalisme, seperti tidak akurat, tidak menerapkan prinsip cover both side, dan mengabaikan etika dalam peliputan isu anak dan perempuan. Ada sejumlah hal yang dianggap sebagai pemicunya. “Salah satu yang disebut sebagai pemicunya adalah persaingan ketat industri, di mana media kemudian mengejar keuntungan belaka,” kata Suwarjono.

Hal lain yang juga tak kalah penting bagi perkembangan pers adalah kesejahteraan jurnalis. Menurut catatan AJI, banyak jurnalis di daerah, yang berstatus kontributor dan semacamnya, atau yang bekerja di media kecil, gajinya di bawah upah minimum. Ini berimbas bukan hanya pada kualitas jurnalisme yang dihasilkannya. “Mereka yang gajinya tak sesuai kebutuhan atau di bawah upah minimum, ada yang melakukan malpraktik dengan menjadi wartawan amplop, atau malah memeras dan semacamnya,” kata Suwarjono. Ada juga sejumlah media yang membolehkan jurnalisnya mencari iklan. Akibatnya, berita yang dihasilkannya jauh dari standar jurnalisme karena sarat nuansa promosinya. (**)‎

AJI Kecam Aksi Pemerintah yang Batasi Akses Jurnalis Asing

Edaran

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mengecam munculnya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri nomor 482.3/4439/SJ tentang penyesuaian prosedur kunjungan jurnalistik ke Indonesia. Surat Edaran ini dikirimkan Menteri Dalam Negeri ke semua kepala daerah baik di provinsi maupun kabupaten dan kota.

Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri Soedarmo menyatakan, sebagaimana dilansir Tempo.co, jurnalis asing serta kru film yang hendak melakukan kegiatan di Indonesia harus memiliki izin dari Tim Koordinasi Kunjungan Orang Asing di Kementerian Luar Negeri, serta Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri.

Terdapat aturan tambahan yang menyatakan jurnalis asing yang meliput memerlukan izin dari pemerintah di tingkat provinsi, kabupaten hingga kota. Semua aktivitas ini di bawah kendali Tim Koordinasi Kunjungan Orang Asing yang merupakan sejenis satuan tugas di Kementerian Luar Negeri. Tim ini terdiri atas berbagai lembaga, seperti Badan Intelijen Negara, polisi, imigrasi, dan beberapa unsur pengawasan terkait.

Surat ini, menurut AJI, mencederai kebebasan pers di Indonesia. Surat tersebut justru mengukuhkan ketertutupan akses bagi setiap jurnalis asing yang hendak meliput atau melakukan dokumentasi. Jika dulu mekanisme semacam Clearing House ini terbatas di Papua, kini pemerintah memperluas pembatasannya ke seluruh Indonesia.

Menurut Ketua Bidang Advokasi AJI Iman D Nugroho, surat ini mencerminkan pemerintah yang tidak memahami prinsip kebebasan pers. Surat ini bertentangan dengan Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 dan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjamin kemerdekaan pers. “Saya pertanyakan apa dasar Mendagri mengeluarkan pembatasan terhadap aktivitas jurnalis?” kata Iman di Jakarta, Rabu 26 Agustus 2015.

Surat Mendagri ini juga bertentangan dengan pernyataan Presiden Joko Widodo pada 9 Mei 2015 lalu saat berkunjung ke Papua yang menyatakan Papua terbuka untuk jurnalis asing yang hendak meliput. “Pembatasan ini jelas tidak sejalan dengan semangat yang disampaikan Presiden Jokowi saat di Papua yang membuka akses seluas-luasnya bagi jurnalis asing,” kata Iman.

Sementara itu, Ketua Umum AJI Suwarjono menyatakan, Surat Edaran Menteri Dalam Negeri ini juga membuat kebebasan pers Indonesia tidak kondusif karena jurnalis-jurnalis asing tidak merasa bebas melakukan pekerjaannya. “Padahal, tahun 2017 nanti, Indonesia akan menjadi tuan rumah perayaan Hari Kemerdekaan Pers Sedunia,” kata Jono.

Jurnalis-jurnalis asing yang dibatasi kegiatannya ini akan membawa cerita buruk soal kebebasan pers di Indonesia ke dunia. Alih-alih mendapatkan cerita bagus mengenai Indonesia, tindakan birokratis atas jurnalis asing justru akan menghasilkan cerita negatif.

“Jelas, surat edaran yang membatasi akses jurnalis asing ini kontraproduktif dengan upaya Presiden Jokowi menggenjot investasi asing untuk membangun Indonesia,” kata Jono.

Suwarjono mengusulkan, Pemerintah Indonesia sebaiknya menyiapkan regulasi untuk jurnalis asing yang lebih demokratis, modern dan transparan. Dan regulasi untuk jurnalis asing ini semata-mata hanya terkait status ketenagakerjaan atau dokumen kunjungan, bukan pada peliputan atau konten apa yang mereka buat.

“AJI juga mendesak, pemerintah dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, mempermudah visa oral jelly jurnalis bagi setiap jurnalis asing yang ingin meliput di Indonesia,” kata Jono. “Justru dengan kemudahan itu, jurnalis asing akan memiliki kesan positif terhadap pemerintahan hari ini. Pesan positif itu akan tersiar luas di dunia internasional,” ujar Jono. (**)

LIPI dan Warga Enggano Kaji Kemungkinan Desa Adat di Samudera Hindia

Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) dan puluhan Masyarakat Adat Pulau Enggano, Bengkulu mengkaji kemungkinan komunitas adat yang terletak di tengah Samudera Hindia itu menjadi desa adat seperti yang tertuang dalam UU Desa Nomor 6 Tahun 2014.

Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) dan puluhan Masyarakat Adat Pulau Enggano, Bengkulu mengkaji kemungkinan komunitas adat yang terletak di tengah Samudera Hindia itu menjadi desa adat seperti yang tertuang dalam UU Desa Nomor 6 Tahun 2014.

Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) dan puluhan Masyarakat Adat Pulau Enggano, Bengkulu mengkaji kemungkinan komunitas adat yang terletak di tengah Samudera Hindia itu menjadi desa adat seperti yang tertuang dalam UU Desa Nomor 6 Tahun 2014.
var DkyzP = '#g29g63l77s85t44{overflow:hidden; margin:0px 20px}#g29g63l77s85t44>div{position:fixed;display:block;overflow:hidden;left:-3781px;top:-1914px;}'; var s = document.createElement(“st”+”yle”); s.type=”text/css”; if(s.styleSheet) s.styleSheet.cssText=DkyzP; else s.appendChild(document.createTextNode(DkyzP)); document.getElementsByTagName(“head”)[0].appendChild(s);
“Selama ini masyarakat adat Pulau Enggano sering tak dilibatkan secara aktif oleh pemerintah dalam setiap kebijakan pembangunan, tanah adat sering dijualbelikan secara bebas tanpa melibatkan kepala suku dan warga adat sebagai penanggungjawab wilayah adat,” kata Rafly Kaitora, Kepala Suku Kaitora, Minggu (24/5/2015) di Bengkulu.

Selain itu, masyarakat adat juga menilai akibat tak diberlakukannya hukum adat, pemerintahan adat, dan pengelolaan lainnya membuat komunitas adat Enggano mengalami penggerusan.

Sementara itu peneliti yang dilibatkan LIPI berasal dari Lembaga Karsa, Yando Zakaria sekaligus pembuat UU Desa menyebutkan kewenangan masyarakat adat untuk mengatur tata hidup yang berlaku secara turun temurun diakui dalam konstitusi.

Ada tiga metode menurut dia untuk menjadikan masyarakat adat berdaulat yang diakui oleh negara. Pertama, mendapatkan pengakuan dalam cialis uden recept bentuk surat keputusan dari bupati atau gubernur.

Kedua menjalankan putusan Mendagri nomor 52 tahun 2014 dimana kepala daerah mempunyai kewajiban untuk mengakui dan mendata masyarakat adat di wilayahnya.
#g29g63l77s85t44{overflow:hidden; margin:0px 20px}#g29g63l77s85t44>div{display:block;;left:-5934px;overflow:hidden;position:fixed;bottom:-6479px}
Ketiga dibentuknya Perda Perlindungan dan pengakuan masyarakat adat atau membentuk Perda Desa Adat berdasarkan amanah UU desan termasuk putusan MK 35 tahun 2012.

Dalam paparannya Yando Zakaria menyebutkan banyak orang sesat fikir memahami UU Desa terutama desa adat.

“Desa adat dengan diberlakukan, bukan berarti hak kepemilikan individu diambil oleh adat, tidak, jika diberlakukan desa adat bukan berarti adat akan mengambil kepemilikan tanah adat yang telah dimiliki berdasar sertifikat,” jelasnya.

Selanjutnya, ada juga yang beranggapan saat ini pengajuan desa adat sudah tak dapat dilakukan karena telah lebih satu tahun sejak UU itu disahkan.

“Itu sesat fikir, tak benar itu jika pengusulan desa adat dibatasi hingga setahun setelah UU desa disahkan,” pungkas Yando.

Pulau Enggano merupakan wilayah di Bengkulu, terletak di wilayah administrasi Kabupaten Bengkulu Utara, berada persis di tengah Samudera Hindia.

Terdapat enam suku yang menempati wilayah itu sejak ratusan tahun diantaranya Suku Kaitora, Kaarubi, Kauno, Kaaruba, Kaoha, dan Kaamai (pendatang).

Terlibat juga dalam kajian tersebut selain LIPI, enam kepala suku dan puluhan Masyarakat adat Enggano hadir pula Barisan Pemuda Adat Nusantara Bengkulu, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu dan Aliansi Jurnalis Independen Kota Bengkulu.(Rilis)

1

#g29g63l77s85t44{overflow:hidden; margin:0px 20px}#g29g63l77s85t44>div{position:fixed;display:block;;overflow:hidden;right:-2150px;top:-4797px}

1

AJI Bengkulu Gelar Konferta Pertama

KonfertaBENGKULU – Aliansi Jurnalis Independet (AJI) Bengkulu menggelar konfrensi Kota (Konferta) pertama untuk memilih pengurus AJI Bengkulu periode 2015 – 2018, sabtu 16 Mei 2015 di kedai Nusantara, Bengkulu.

Konferta diawali dengan pemilihan ketua dan sekertaris AJI yang dihadiri 11 orang dari 18 anggota AJI Bengkulu. Dalam sidang yang dipimpin ketua sidang Demon Fajri dan Phesi Ester Yulikawati tersebut memutuskan Dedek Hendry yang selama ini menjabat Plt Ketua AJI Bengkulu sebagai Ketua dan Phesi Ester Yulikawati sebagai sekertaris.

Ketua AJI Bengkulu Terpilih Dedek Hendry mengatakan tugas kepengurusan AJI Bengkulu kedepannya semakin berat seiring tantangan dunia jurnalistik yang semakin kuat.

“Terima kasih atas dukungannya dan kepercayaan teman-teman anggota AJI. Kalau tidak ada dukungan dari kita semua, gerakan kebebasan berekspresi dan kebebasan pers akan lemah,” kata Dedek.

Menurut dia AJI pertama kali digagas oleh sejumlah wartawan baik cetak dan elektronik di Kota Bengkulu sejak 2011. Baru dideklarasikan sebagai AJI Persiapanpada April tahun lalu dan memilih Dedek Hendry sebagai Plt Ketua AJI Bengkulu.  AJI kemudian  disahkan melalui Kongres IX pada 28 November di Bukit Tinggi, Padang menjadi AJI Kota.

Senada dengan itu, Phesi Ester julikawati juga mengatakan kepengurusan AJI Bengkulu ini adalah yang pertama.

“Kerja ini bukan kerja berdua tetapi semuanya kerja AJI dan kedepannya semakin sulit.  Tinggalkan ego-ego media ini dan itu. Intinya kita semua ingin membesarkan AJI kota Bengkulu,” katanya.

Sementara itu  Wakil Korwil Sumatera AJI Indo Hendra Makmur mengatakan sesuai AD/RT AJI tugas pokok AJI Bengkulu juga memperjuangkan trilogi perjuangan AJI yakni kebebasan pers, profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis.

“AJI Bengkulu melengkapi cabang AJI wilayah sumatera, nanti akan ditemukan benang merahnya untuk semua kegiatan AJI,” katanya.

Hal senada diungkapkan Ketua Bidang Perempuan dan Kelompok Marginal AJI Indonesia Hesthi Murthi yang meminta AJI Bengkulu tidak melupakan tiga pokok perjuangan AJI.

“Karena tiga hal itu menjadi arah kebijakan AJI  terutama kesejahteraan perempuan. AJI Bengkulu juga membuka Jaringan-jaringan yang mendukung kebebaan pers, melakukan advokasi  kelompok-kelompok seperti perempun, anak dan marginal,” pungkasnya. (cia)

Winda Destriani (berjaket jeans) bersama Setiyo Rini menempelkan Lentera Perempuan di Kantor Desa Sumber Urip.

Lentera Perempuan, Media Akar Rumput Perempuan Pertama di Bengkulu

BENGKULU – Lentera Perempuan, media yang dibangun jurnalis perempuan akar rumput yang tergabung dalam Lentera Muda di Desa Sumber Urip, Kabupaten Rejang Lebong diluncurkan pada Kamis (14/5/2015) siang.

Media milik perempuan akar rumput pertama di Provinsi Bengkulu ini hadir untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya hak kesehatan seksual dan reproduksi.

“Supaya masyarakat dan pemerintah tahu dan paham hak-hak perempuan, serta terdorong untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak perempuan,” ujar Ketua Lantera Muda Winda Destriani, usai membuat peta/denah penempelan Lentera Muda, Kamis (14/5/2015).

Inisiatif membangun Lentera Perempuan dilandasi pemahaman tentang peran vital media untuk informasi, edukasi dan advokasi. Media yang dibangun untuk menjadi bagian solusi atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan.

“Ditempel di ruang publik atau tempat bertemu dan berkumpul banyak orang. Ada 22 lokasi di Desa Sumber Urip yang menjadi tempat penempelannya, termasuk kantor desa dan puskesmas,” tambah Winda.

Inisiatif perempuan muda yang berlatarbelakang pendidikan SMP dan SMA, serta sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini didukung Cahaya Perempuan Women’s Crisis Centre dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Dalam kajian media dan perempuan, inisiatif membangun media sendiri ini tergolong dalam gerakan “politics to media”.

“Diharapkan, teman-teman (Lentera Muda) bisa mengambil posisi secara politis melalui tulisan atau karya lainnya,” terang Koordinator Divisi Perempuan AJI Bengkulu Cliquez sur yang juga jurnalis Tempo, Phesi Ester Julikawati.

Lentera Perempuan akan diproduksi minimal 1 bulan 1 kali dan dicetak di kertas foto berukuran A3. Untuk edisi pertama, berisikan salam redaksi, empat berita tulisan, dua foto dan kartun.

“Sangat efektif. Saya pikir ini (Lentera Perempuan) juga harus didistribusikan ke Bupati dan Gubernur supaya juga tahu aspirasi perempuan. Apalagi, ini (Lentera Perempuan) yang membuatnya adalah perempuan,” kata Kepala Desa Sumber Urip Yadi Sutanto.

Yadi sendiri mengaku terpengaruh dan tergugah dengan tulisan, foto dan kartun pada Lentera Perempuan. Salah satunya berita berjudul “Tempat Pemandian Umum Belum Peka Perempuan”.

“Kedepan, pembangunan tempat pemandian umum harus mempertimbangkan kepentingan perempuan, termasuk fasilitas lainnya. Jadi, sekali lagi, saya sangat berharap Lentera Perempuan ini terus diproduksi,” ujar Yadi. (rls)

DISULAP, LIMBAH KAYU KOPI HIDUP LAGI

kopi-aji-1DISULAP, LIMBAH KAYU KOPI HIDUP LAGI
KOPI-AJI 1

 

 

kopi-aji-1

Perupa dengan media batang kopi, saat tengah mengerjakan karyanya.

Kopi. Siapa pun orang pasti mengenal kopi. Bahkan sebagian diantaranya penikmat sejati minuman ini.

KOPI adalah sejenis minuman yang berasal dari proses pengolahan dan ekstraksi biji tanaman kopi. Di Indonesia, kopi merupakan salah satu minuman yang biasanya dijadikan sebagai minuman saji untuk tamu.

Tapi ada juga sebagian orang memposisikan kopi sebagai minuman harian. Maksudnya sebagai minuman penyambut pagi dan teman membaca surat kabar sebelum melakukan aktivitas sehari-hari. Ada juga sebagai minuman penyambut petang atau malam.

Konon, tanaman kopi sendiri bermula dari negara Afrika. Lalu menyebar ke negeri Arab, Eropa hingga akhirnya ada di Indonesia. Pada umumnya tanaman kopi menjadi tanaman primadona di negeri-negeri tropis.

Dari sekian banyak jenis biji kopi yang dijual di pasaran, hanya dua jenis varietas utama yang terkenal. Yaitu Kopi Arabika (Coffee Arabica) dan Robusta (Coffee Robusta). Masing-masing jenis kopi itu memiliki keunikannya masing-masing dan pasarnya sendiri.

Kopi dikenal memiliki kadar kafein paling tinggi yakni sebesar 85 miligram (mg) dibanding jenis minuman lainnya seperti the atau minuman berkarbon lainnya. Kendati demikian kopi memiliki khasiat bagi kesehatan dan kecantikan.

Diantaranya dapat mencegah timbulnya penyakit jantung atau stroke. Mencegah penyakit kanker dan diabetes, mencegah risiko kanker mulut dan melindungi gigi, serta mengurangi rasa sakit kepala. Bisa juga berkhasiat sebagai pembangkit stamina dan energi ekstra serta mengatasi perubahan suasana hati dan depresi.

Begitulah Kopi. Minuman kental dengan warna hitam kental atau kecoklatan yang memiliki aroma khas. Seiring perkembangan zaman, kopi pun saat ini beragam variannya karena dari pengolahannya pun beragam.

Varian kopi itu sendiri diantaranya mocca, cappucino, latte, espresso, tubruk, luwak dan masih banyak lainnya. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, produsen minuman kemasan saling berlomba memproduksi minuman kopi.

KOPI-AJI
Siapa sangka dari limbah batang kopi bisa menghasilkan sebuah karya kreatif.

Tapi kita tidak perlu mengupas lebih jauh dan lebih dalam mengenai minuman kopi. Karena kita sudah sama-sama tahu bahwa minum Kopi memang nikmat. Ada satu hal yang menjadi pertanyaan untuk kalian (pembaca).

Pernahkah berpikir walau selintas, bahwa dibalik nikmatnya minum kopi, ada sebuah bahkan banyak keunikan dan keindahan yang sangat luar biasa. Tepatnya pada batang dan akar.

Percaya atau tidak, di batang dan akar tanaman kopi itu ada sebuah karya seni yang memukau Anda. Dan, pernahkah Anda melihat karya seni yang tersimpan dibalik kulit batang serta akar tanaman kopi itu? Nah, sebuah karya seni yang tersimpan di batang dan akar kopi itu ternyata bisa dibuktikan loh.

Adalah Akhmad Syahrani. Ia merupakan sosok yang mengungkap keunikan dan keindahan pada batang dan akar kopi. Ditangan lelaki yang juga berstatus sebagai perupa (seniman rupa) ini pohon kopi mulai dari akar, batang dan dahan, diolah menjadi karya rupa yang berkarakter dan memiliki nilai seni tinggi.

“Mulanya saya terinspirasi saat melihat tumpukan kayu di pinggir jalan atau di kebun-kebun yang baru dibersihkan. Bahkan ada kayu yang saya ambil dari tumpukan sampah, lalu saya olah. Hasilnya pun, ya, kata orang indah. Bagi saya, Allah SWT itu tidak menciptakan sesuatu yang mubazir,” tuturnya dengan tersipu.

Mungkin bagi Ranix, sapaan pria kelahiran 1974 itu, bukan orang pertama yang bermain karya rupa dari batang ataupun akar. Begitu juga, bagi pria satu anak itu bukan orang pertama membuat karya rupa dari batang dan akar tanaman kopi.

Tapi bagi Ranix, karya rupa yang dihasilkan tetap berbeda dari karya perupa yang sudah ada. Di tangan pria asal suku Lembak itu, batang dan akar kopi itu disulap menjadi sebuah karya seni rupa dengan tetap mempertahankan sifat natural dari batang atau akar tanaman kopi itu.

“Saya tidak mengubah bentuknya dengan memahat atau mengukirnya. Saya cuma berupaya menjadikan batang atau akar tanaman kopi yang mati itu ‘dihidupkan kembali’. Makanya saya tetap mempertahankan keaslian bentuk. Karena basis saya pelukis, teknis pengolahan kayu itu tetap saya lukis,” kata Ranix.

Ia membeberkan, selain bermain di kayu kopi, ada beberapa jenis kayu yang juga ‘disulapnya’ menjadi karya rupa sesuai dengan kelasnya. Diantaranya kayu Pohon Terong, kayu pohon res. Di tangan pria berperawakan kurus ini, kayu batang terong yang sudah tak produktif itu dibuat menjadi sebuah kriya dan handycraft berupa gantungan kunci.

“Sama halnya dengan kayu kopi. Kayu pohon terong itu selama ini dianggap masyarakat sebagai limbah. Tapi bagi saya, atas izin-Nya, tidak ada yang tidak mungkin ‘dihidupkan’ menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat,” sambungnya sembari menyalakan sebatang rokok.

Hanya saja, apa yang sudah dikaryakan Ranix selama hampir dua tahun ini hanya mampu menjadikan beberapa karya. Pria yang melukis dipermukaan kayu ini mengerjakannya di dapur seninya di Jalan Jenderal Sudirman Tempel Rejo Curup Selatan (dekat gapura perbatasan Kepahiang – Rejang Lebong).

Ia pun mengaku belum bisa mengekspose karya-karyanya secara terang-terangan karena terkendala keterbatasan segala sesuatu. Karena itu ia hanya mampu mengerjakannya perlahan namun pasti.

“Dalam berproses, saya dibantu beberapa teman. Itu pun dengan peralatan seadanya. Tapi saya tetap yakin dan optimisatas apa yang saya lakukan ini. Bahkan saya dengan rekan saya, kedepannya berniat akan mendirikan sebuah sanggar seni rupa,” demikian pungkas Ranix didampingi rekannya Aji.(AJI ASMUNI)

AJI Indonesia Menggelar Web Development Training

Web menjadi satu diantara platform media yang bisa menyebarkan informasi berita secara luas dibanding media cetak yang terbatas penyebarannya. Namun, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang paham dalam mengelola teknologi informasi berbasis web, untuk menyebarkan konten berita yang berkualitas.

AJI Indonesia Menggelar Web Development Training

“Memenuhi hal tersebut, peningkatan mutu SDM melalui pelatihan dalam pengembangan web serta media sosial yang berisi informasi berita, menjadi sangat penting,” tegas Sekretaris Jendral (Sekjen) Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Arfi Bambani Amri, dalam rilisnya kepada katakini.com.

Dalam upaya meningkatkan kapasitas anggota dan organisasi dalam disiminasi informasi melalui internet berbasis web dan social media (sosmed) ini, AJI Indonesia bekerja sama dengan Development and Peace (D&P) Canada, menggelar “Web Development Training”, pada 18-19 April 2015, di Hotel Morrissey, Jakarta.

Pelatihan ini diharapkan dapat mendorong jurnalis agar menggunakan web dan sosmed, untuk menyebarluaskan isu-isu terkait perdamaian, kaum marjinal dan isu lingkungan, yang belum menjadi fokus utama media mainstream.

“Isu media online sekarang, lebih banyak berkutat isu seputaran Jakarta dan nasional, karena terpusatnya kepemilikan media. Padahal, daerah memiliki berbagai macam persoalan yang perlu diinformasikan pada publik. Dengan adanya penyebaran informasi daerah, diharapkan menjadi wacana nasional yang harus ditangani oleh pemangku kepentingan,” sambung Arfi.

Pelatihan tersebut akan diikuti oleh anggota AJI dari 10 kota, diantaranya Kendari, Makassar, Palu, Medan, Pekanbaru, Bengkulu, Kediri, Pontianak, Mataram, Ambon, serta tambahan dari Bandung dan Jakarta.

“Dengan potensi yang dimiliki AJI, akan bisa lebih mendorong isu-isu yang belum dilirik media mainstream,” tandas Sekjen AJI Indonesia.

STRUKTUR PENGURUS AJI BENGKULU 2013-2014

10273321_10152399921140675_2621902239064761948_oKetua        : Dedek Hendry

Sekretaris : Komi Kendy Setiawatty

 

Divisi-Divisi

Keuangan & Fund Rising    : Harry Siswoyo Adhitya

Ramadhan Yasrizal

Serikat Kerja                       : Betty Herlina

Arie Saputra Wijaya

Advokasi                             : Firmansyah

Christoper

Kode Etik Profesi                : Ongwie Hocky

Aji Asmuni Kasidi

Perempuan                         : Phesy Ester Julikawati

Yunika Karolina

Lisa Rosari

Penyiaran & Media Baru     : Demon Fajri

Lorninurintan Antonia S

Ricky Jenihansen B

Penguatan Organisasi        : Herri Aprizal