Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo dalam sambutan MoJo Universitas Dehasen-AJI Bengkulu.Foto AJI Bengkulu

Praktik MoJo Memudahkan Kerja Jurnalistik

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, kembali menggelar kegiatan kursus singkat Mobile Journalism (MoJo), Sabtu 14 Desember 2019, pukul 10.00 WIB.

Kegiatan yang berlangsung di aula lantai IV, Universitas Dehasen Bengkulu tersebut, melibatkan 108 peserta dari kalangan mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi di Bengkulu.

Seperti, mahasiswa/i Fakultas Ilmu-ilmu Sosial universitas Dehasen, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, IAIN Curup, kabupaten Rejang Lebong dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bengkulu.

AJI Bengkulu sebelumnya telah menggelar kegiatan kursus singkat MoJo, pada Kamis, 05 Desember 2019. Pada kegiatan itu melibatkan 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, blogger, youtuber dan content creator Bengkulu yang digelar di Boombaru Resto kota Bengkulu.

Sebanyak 155 peserta mendaftarkan diri, sejak pendaftaran secara online melalui form google dibuka pada Kamis, 5 Desember 2019 hingga Rabu, 11 Desember 2019.

”Peserta yang dinyatakan lolos sesuai dengan kriteria untuk mengikuti short course and Practice-MoJo, Universitas Dehasen-AJI Bengkulu, sebanyak 108 peserta,” kata Koordinator Bidang Pendidikan AJI Bengkulu, Demon Fajri, Sabtu (14/12/2019).

Pada kursus singkat tersebut, sampai Demon, seluruh peserta mendapatkan materi berupa, journalism by the people yang disampaikan Dedek Hendry, selaku ketua AJI Bengkulu, periode 2015-2019/Jurnalis The Jakarta Post.

Lalu, phonegraphy/fotoponsel disampaikan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu, Komi Kendy Settiawaty dan Ketua AJI Bengkulu periode 2019-2022, Harry Siswoyo.

Sementara materi mobile journalism disampaikan Heri Aprizal, Koodinator Bidang Komunikasi dan Data AJI Bengkulu/Redaktur surat kabar harian (SKH), Rakyat Bengkulu.

”Ini merupakan kegiatan pelatihan pertama kali digelar AJI Bengkulu di perguruan tinggi. Dehasen merupakan kampus pertama yang membuka diri untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa/i dalam Mobile Journalism,” terang jurnalis okezone.com ini.

”Dari kursus singkat ini diharapkan dari mahasiswa/i dapat membentuk komunitas berbasis jurnalis warga dengan mengedepankan etika,” sampai Demon.

Ratusan mahasiswa/i ikuti Short Course and Practice-Mobile Journalism (MoJo), Universitas Dehasen-AJI Bengkulu, Sabtu 14 Desember 2019. Foto AJI Bengkulu.

MoJo Memudahkan Kerja Jurnalistik
Jurnalisme sejatinya memang milik semua orang. Karena itu siapa pun bisa melakukannya. Hanya saja memang ada nilai-nilai yang mesti dipatuhi. Salah satunya adalah verifikasi. Dengan itu, produk jurnalise dalam bentuk apa pun bisa dipercaya dan bukan tidak mungkin mendorong perubahan sosial.

Short Course and Practice-Mobile Journalism (MoJo), adalah salah satu contoh terapan praktik jurnalisme yang bisa dilakukan siapa pun. Berbekal telepon pintar, dan sentuhan nilai jurnalisme maka ini akan menjadi sebuah karya yang bisa dipercaya.

Bagi jurnalis, kata Ketua aliansi jurnalis independen (AJI) Bengkulu, Harry Siswoyo, jelas dengan menerapkan praktik MoJo akan bisa memudahkan kerja-kerja jurnalistik yang kian hari makin banyak duversifikasinya.

Di sisi lain, bagi mahasiswa atau masyarakat MoJo juga akan memudahkan. Setidaknya untuk mendokumentasikan sebuah aktivitas atau untuk mengkampanyekan sesuatu bagi kepentingan publik.

”Terima kasih untuk Universitas Dehasen Bengkulu, yang telah menjadi tuan rumah. AJI secara kelembagaan mengapresiasi semangat Dehasen sebagai mitra AJI. Semoga semangat ini bisa menularkan kepada kampus lain untuk juga ikut menguatkan kapasitas mahasiswanya, khususnya dalam era digital hari ini,” kata Harry.

MoJo Berhubungan dengan Mata Kuliah
Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Dehasen Bengkulu, Asnawati mengatakan, kursus singkat MoJo Universitas Dehasen-AJI Bengkulu merupakan salah satu bentuk output kerjasama AJI Bengkulu dengan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, beberapa waktu lalu.

MoJo, kata Asnawati, sangat bermanfaat mahasiswa/i universitas Dehasen, Khususnya, fakultas ilmu-ilmu sosial. Di mana kursus singkat MoJo banyak sekali yang berhubungan dengan mata kuliah ilmu komunikasi. Baik mengenai jurnalis, fotografi serta lainnya.

Melalui MoJo, terang Asnawati, nantinya mahasiswa/i dapat memanfaatkan teknologi melalui smartphone dengan baik dan beretika.

”Saya berharap pelatihan ini dapat diikuti peserta sampai selesai. Gali-lah ilmunya dari pakar-pakar AJI Bengkulu,” terang Asnawati.

Ditambahkan Rektor Universitas Dehasen Bengkulu, Prof. Johan Setiantoas, pada saat ini stigma masyarakat sudah berubah. Jika sebelumnya masyarakat membaca informasi melalui media massa atau koran. Namun, pada era milenial masyarakat sudah bergeser ke media online melalui berbagai platform.

”Kalau tidak bergeser ke sana (media online) maka akan ketinggalan,” jelas Johan.

Pada era milenial, sampai Johan, saat ini setiap orang bisa melaporkan sesuatu kejadian secara langsung, dengan menggunakan berbagai platform. Sehingga informasi tersebut cepat menyebar ke dunia maya.

Dahulu, tambah Johan, pepatah mengatakan mulut mu harimau mu. Namun, pada saat ini jempol mu adalah harimau mu. Dari itu, harap Johan, perlu adanya etika dalam penyampaian informasi ke dunia maya yang disebar melalui berbaga[i platform.

”Internet ada sisi positif dan negatif. Namun, kita harus tahu apa yang layak diberikan ke publik apa yang tidak boleh diberikan ke publik. Melalui MoJo ini setidaknya jurnalis warga dapat beretika dalam penyampaikan informasi ke dunia maya,” sampai Johan.

Kursus singkat Mobile Journalism (MoJo)-AJI Bengkulu, Kamis, 05 Desember 2019. Foto AJI Bengkulu

AJI Bengkulu Inisiasi Pelatihan MoJo

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu menggelar kegiatan kursus singkat Mobile Journalism (MoJo), Kamis, 05 Desember 2019. Kegiatan yang melibatkan 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, blogger, youtuber dan content creator Bengkulu ini digelar di Boombaru Resto.

Koordinator Bidang Pendidikan AJI Bengkulu, Demon Fajri mengatakan, kursus singkat gratis ini sebagai bagian dari misi edukasi AJI, khususnya terkait penggunaan telepon pintar yang hari ini telah menjadi satu kebutuhan penting setiap orang.

Metode pelatihan ini akan menggunakan pola pemaparan dan diskusi serta praktik singkat penerapan telepon seluler sebagai alat untuk mendokumentasikan apa pun, tentunya dengan sentuhan jurnalisme.

“Peserta diberikan tips penulisan naskah, reportase, pengambilan video, grafis dan editing,” kata Demon.

Pendaftaran kursus singkat Mobile Journalism yang digelar AJI Bengkulu, dilakukan secara daring yang dibuka sejak Minggu, 1 Desember 2019. Total pendaftar sejak dibuka hingga Senin, 2 Desember 2019 tercatat telah melebihi kuota yakni 64 orang.

Dengan rincian, jurnalis sebanyak 19 orang, mahasiswa/i 30 orang, blogger empat orang, Vlogger lima orang dan umum sebanyak enam orang.

“Namun, 30 peserta yang dinyatakan lolos seleksi. Itu sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan,” kata Demon.

Pelatihan yang difasilitasi oleh Koordinator Bidang Komunikasi dan Data AJI Bengkulu, Heri Aprizal berharap dapat melahirkan inisiasi komunitas MoJo di Bengkulu. Sehingga menjadi wadah berbagi dan belajar bersama.

“AJI siap memberikan pendampingan dan penguatan kepada para peserta ini jika ingin lebih serius kedepannya,” ujar Heri.

Jurnalisme oleh Warga
Di bagian lain, Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo menyebutkan bahwa penerapan Mobile Journalism menjadi ruang bagi publik mendapatkan kembali nilai jurnalisme yang selama ini telah hidup di masyarakat.

“Jurnalisme kini bukan cuma milik jurnalis seutuhnya. Loncatan digital lewat telepon pintar dan media sosial serta internet membuat jurnalisme kini milik setiap orang,” kata Harry.

Dedek Hendry, Ketua AJI Bengkulu, periode 2015-2019, menambahkan bahwa jurnalisme sesungguhnya memang telah ada sepanjang peradaban manusia. Sejak seorang manusia mulai bisa berkomunikasi. Sejak itu pula orang tersebut, sebenarnya telah menjadi pencari dan pengabar berita atau informasi.

Karena itu, secara manusiawi seorang manusia akan mencari dan mengabarkan berita atau informasi faktual atau benar, untuk kebaikan dirinya sendiri atau orang lain.

“Sehingga, ketika dikaitkan dengan moralitas, adalah mustahil seorang manusia yang bermoral akan mencari dan mengabarkan berita bohong, apalagi fitnah,” terang jurnalis The Jakarta Post ini.(**)

AJI Bengkulu : Pemanfaatan Smartphone harus Memiliki Etika

BENGKULU – Saat ini generasi millennial mencari identitas melalui media internet. Bagi generasi Z media internet efektif dan efisien, untuk mendapatkan jati diri. Di mana internet memberikan banyak kemudahan pada era millennials.

Berdasarkan data asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia (APJII) 2018, di Indonesia, pada 2017 jumlah pengguna Internet mencapai 143,26 juta jiwa.

Tingginya pertumbuhan pengguna Internet, sekira 143,26 juta atau 54,68 persen dari total penduduk Indonesia, diikuti dengan makin ketatnya kontrol pemerintah.

Dari data Nielsen sepanjang tahun 2014 hingga 2017, media internet tumbuh 21 persen dengan kenaikan durasi mengakses 50 persen.

Derasnya arus informasi di era ini berbagai platform digital, utamanya situs dan media sosial terus mengalami pemblokiran dan penyensoran. Hal tersebut dalam rangka melawan arus berita palsu, penyebaran ideologi radikal dan pornografi.

Berdasarkan data dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Dikominfotik) provinsi Bengkulu, site operastor seluler di Bengkulu, sebanyak 805 site.

Jumlah itu tersebar di 10 kabupaten/kota di provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia” ini. Di mana ratusan site itu di miliki 5 provider atau penyelenggara jasa internet.

Bahkan, Diskominfotik provinsi Bengkulu telah memasang jaringan internet di organisasi perangkat daerah (OPD), Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).

Lalu, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Menengah Atas (SMA), objek wisata dan kampung nelayan yang tersebar di seluruh pelosok Bengkulu. Jaringan internet yang terpasang tersebut dapat di akses secara gratis.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, Harry Siswoyo mengatakan, saat ini seluruh orang telah memiliki smartphone. Mereka mengabarkan apa pun melalui ponselnya. Foto, video, audio dan teks semua bisa dikelola dalam ponsel.

Secara tidak langsung sadar atau tidak, kata Harry, semua orang telah menjadi pewarta. Meski begitu, pemanfaatan smartphone tetap harus memiliki etika dan pengetahuan dasar yang baik, agar penggunanya tidak terjebak dalam paparan informasi negatif.

”AJI Bengkulu mencoba memfasilitasi ini dengan mengenalkan Mobile Journalism kepada mahasiswa/blogger/youtuber/content creator. Semoga dengan pengetahuan ini, praktik jurnalisme ponsel yang kini marak dilakukan citizen dapat lebih berkualitas dan terpercaya,” kata Harry, Minggu (1/12/2019).

Ditambahkan Koordinator Bidang Pendidikan, AJI Bengkulu, Demon Fajri, berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, pengguna internet berdasarakan umur 12-14 tahun 9,9 persen, 15-19 tahun 10,9 persen, 20-24 tahun 11,6 persen.

Lalu, 25-29 tahun 14,2 persen, 30-34 tahun 11,8 persen, 35-39 tahun 10,9 persen. Di usia tersebut termasuk dalam digital native. Di mana generasi yang lahir dan hidup di era internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kemudian, 40-44 tahun 10,1 persen, 45-49 tahun 9,1 persen, 50-54 tahun 5,0 persen, 55-59 tahun 3,1 persen. Usia ini merupakan generasi immigrant.

Sementara untuk penggunaan internet melalui komputer atau tablet dalam sehari masyarakat Indonesia, selama 5 jam 6 menit. Dengan menggunakan internet di ponsel selama 3 jam 10 menit. Kemudian, menggunakan internet melalui media sosial.

Social networking system, seperti Facebook (FB), Twitter, Instagram (Ig) dan YouTube maupun social platform seperti WhatsApp (WA), Line, selama 2 jam 52 menit. Terakhir, pengguna internet menonton tv, selama 2 jam 29 menit.

”Geneasi ini harus belajar beradaptasi dengan internet sehat,” jelas Demon.

Kegiatan Mobile Journalism untuk mahasiswa, Blogger, YouTuber, content creator, sampai Demon, akan di gelar di Boom Baru Restro, jalan pelabuhan lama, kelurahan Malabero kota Bengkulu.

Acara itu, sambung Demon, tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Selain itu, terang dia, untuk peserta kegiatan mobile journalism akan dibatasi sebanyak 30 orang peserta.

”Bagi peserta yang berminat mengikuti kegiatan bisa langsung menghubungi panitia, melalui WhatsApp (WA) ke nomor +6281289571946 atau ke nomor WA +62 85268466020, dengan mencantumkan Nama, Profesi (Mahasiswa, Blogger, YouTuber dan lain-lain),” sampai Demon.

AJI Gelar Festival Media 2019

JAMBI — Festival Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) hari ini resmi digelar. Gubernur Jambi Fachrori Umar membuka acara Festival media 2019 AJI di Aula Gedung Balai Diklat Provinsi Jambi, Sabtu (16/11) pagi. Didampingi Ketua AJI Indonesia Abdul Manan bersama Sekretaris Jenderal AJI Revolusi Riza, dan Ketua AJI Jambi Ramond Eka Putra, Fachrori memukul gong sebagai tanda dimulainya acara Festival Media selama dua hari ke depan.

Fachrori mengapresiasi AJI karena tahun ini menghelat kegiatan festival media di Kota Jambi. Menurutnya, tema literasi yang diangkat sangat relevan dan kontekstual menjawab dinamika perkembangan global yang ditimbulkan dari digitalisasi. Tak terkecuali dampak itu juga dialami oleh media pers.

“Sebagaimana kita ketahui saat ini kita sedang dihadapi fenomena disrupsi ,pergerakan dan perubahan yang terjadi sangat cepat. Lahirnya media baru yang lebih inovatif. Digitalisasi membawa dampak pada pemberitaan jurnalistik di mana teknologi digital bisa diakses oleh hampir semua kalangan,” kata Fachrori dalam sambutannya.

Namun lanjutnya, di tengah penyebaran informasi yang pesat tersebut, sisi negatif digitalisasi juga membawa dampak bagi kebebasan pers. Misalnya informasi yang bias yang kadang juga dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu untuk menebar provokasi.

Gubernur juga mengucapkan selamat datang kepada delegasi AJI Kota se Indonesia ke kota Jambi. Dia berharap, melalui festival media ini, selain kemampuan menulis keakraban sesama jurnalis juga makin erat. Ke depan dia berharap Jambi mendapat kepercayaan lagi untuk perhelatan media sebesar Festival Media AJI ini.

“Semoga provinsi Jambi diberi kepercayaan lagi untuk bisa melaksanakan event serupa sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk dapat berkunjung ke provinsi Jambi sepucuk Jambi sembilan lurah melalui tulisan-tulisan yang dibuat oleh saudara-saudara kita yang tergabung dalam aliansi jurnalis independen,” katanya.

Ketua AJI Abdul Manan mengatakan, festival media AJI diselenggarakan setiap tahun yang penyelenggaraannya selalu bergilir dari kota ke kota yang diadakan oleh AJI setempat. Kebetulan AJI Jambi tahun ini dipercaya menjadi tuan rumah, sementara temanya punya keterkaitan dengan cagar budaya. Jambi menurut Abdul Manan, memiliki aset cagar budaya yang luar biasa seperti kawasan candi muara Jambi.

“Jambi memiliki aset budaya yang punya sejarah panjang. Dan memang cukup menjadi masalah kita saat ini aset yang dimiliki Jambi menghadapi tantangan digitalisasi,” katanya.

Tema festival media AJI ingin mengaitkan nilai-nilai literasi yang terkandung di dalam kekayaan warisan budaya yang dimiliki Jambi. Saat ini media mengalami disrupsi yang sangat luar biasa, ditandai ditandai dengan orang berpindah ke gadget atau perangkat telepon pintar. Perubahan juga berdampak penting bagi jurnalis dan media dalam menyampaikan informasi pubik.

“Kita tidak bisa hindari ketika orang paling banyak mengakses informasi melalui media digital. Media bersaing dengan media sosial yang kerap menyebarkan hoaks. Di sinilah tantangannya, publik harus diajarkan bagaimana memeriksa fakta dan cerdas mengosumsi berita,” kata Abdul Manan.

Menurutnya informasi dari media sosial tentu berbeda dengan karya jurnalistik. Orang-orang yang menyebarkan informasi di media sosial tidak bekerja dengan kode etik jurnalistik yang menjadi panduan profesi jurnalis.

“Karena itu literasi sangat dibutuhkan, dan tema itulah sekiranya tepat kita memilih Jambi sebagai tempat acara ini. Acara ini juga salah satu cara AJI mendorong profesionalisme.” katanya.

Abdul Manan juga menyampaikan terima kasih festival media ternyata direspon antusias yang besar dari masyarakat Jambi. Kepada Gubernur Abdul Manan juga mengucapkan terima kasih atas spanduk ucapan selamat datang yang tersebar di banyak titik dari pemerintah provinsi.

“AJI memang membatasi kerjasama dengan pemerintah dalam banyak hal demi menjaga independensi dan profesionalisme. AJI cukup berterima kasih ketika acara ini disambut oleh banyak masyarakat,” katanya.

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan talkshow pemelihaan cagar budaya di era bigdata. Tiga narasumber membahas eksistensi cagar budaya di era digital. Pembicara antara lain, ISmail Fahmi Pegiat Digital Founder Drone Emprit, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Iskandar Mulia Siregar, sejarawan jurnalis AJI Wenri Wanhar.

Selain itu, sejumlah workshop juga berjalan paralel dari siang hingga sore, antara lain workshop menjadi presenter oleh Alfian Rahardjo News Anchor CNN Indonesia, workshop meliput isu lingkungan, dan workhop hoax busting and digital hygiene. (rls)

 

 

Jurnalis Itu Pejuang HAM

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu menggelar workshop bagi para jurnalis terkait isu keberagaman gender dan Hak Asasi Manusia, Minggu, 27 OKtober 2019.

Proses diskusi dan belajar bersama yang diikuti para jurnalis dari media cetak, daring dan radio ini diselenggarakan di Rumah AJI Bengkulu.

“Jurnalis memiliki peran penting menginformasikan keberagaman gender kepada publik,” ujar Phesi Ester Julikawati, fasilitator workshop dalam pemaparannya.

Keberagaman gender, kata Phesi, sampai hari ini di Indonesia memang masih menjadi sebuah bahasan pelik. Ketidaktahuan masyarakat, bahwa gender hanya semata soal perbedaan jenis kelamin, telah menjadi sebuah konstruksi sosial yang melekat.

Salah satunya kepada kelompok minoritas, Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender (LGBT), dalam persepektif media. Banyak sekali bias yang cenderung bertentangan dengan semangat HAM.

Akibatnya, stigma negatif yang selama ini melakat kepada kelompok LGBT, semakin menguat dan bahkan bisa menjadi ancaman baik itu kepada kelompok LGBT ataupun kepada media atau jurnalis yang menyampaikan realitas soal LGBT.

“Padahal ini bukan soal pro atau tidak. Tapi ini tentang sebuah kelompok minoritas dalam kacamata HAM,” kata Phesi yang juga anggota Majelis Etik AJI Bengkulu.

Sementara itu, Dedek Hendry, yang juga menjadi fasilitator diskusi menambahkan bahwa, secara prinsip jurnalis adalah bagian tak terpisahkan dari HAM. Karena itu, semangat jurnalis adalah mendorong terwujudnya HAM.

“UU kita menyebut manusia, jadi bukan suku, ras, orientasi seksual atau apa pun,” katanya.

Atas itu, kata Dedek, tidak ada alasan bagi jurnalis untuk tidak menyuarakan perlindungan, pengakuan, penghormatan atau mempromosikan HAM untuk kelompok minoritas LGBT.

“Jurnalis itu pejuang HAM,” ujar Dedek.

kelompok difabel bengkulu

AJI Kenalkan Kelompok Difabel Kerja Jurnalis

RBO, BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu dan kelompok penyandang disabilitas mengunjungi kantor RB Televisi (RBTV), Jumat (11/10). Kunjungan ini merupakan bagian dari program pelatihan menulis yang dilakukan AJI Bengkulu bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas (PIK-PPD).

Kedatangan mereka disambut langsung oleh Pimred RBTV, Purnama Sakti. Setelah memperkenalkan proses kerja jurnalistik, para tamu dari kalangan difabel ini diajak berkeliling untuk melihat semua ruangan dan aktifitas bagian masing-masing hingga berita bisa ditonton publik.

Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo mengatakan, tidak kurang dari 40an penyandang disabilitas yang hadir hari ini, diperkenalkan langsung dengan kerja-kerja jurnalis televisi yang selama ini sering mereka tonton. “Mereka bisa melihat langsung bagaimana media televisi bekerja mengolah berita, lalu menyajikannya kepada masyarakat,” kata Harry.

Menurut Harry, penyandang disabilitas ini sebelumnya telah diberikan pembelajaran tentang menulis, fotografi, vidiografi dan menggambar. Dari anggota penyandang disabilitas yang mengikuti kegiatan itu didominasi oleh tuna rungu dan daksa.

“Ini sudah pertemuan kedelapan setiap hari Jumat di Kantor Dinas Sosial Provinsi mulai pukul 14.00 WIB,” kata Harry.

selengkapnya..

AJI Bengkulu Buka Pendaftaran Anggota

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu membuka penerimaan anggota baru. Proses perekrutan ini akan digelar dalam beberapa tahapan.

Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo menyebutkan, sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga, keanggotaan AJI secara prinsip terbuka pada setiap individu profesional dan independen yang teratur melakukan kegiatan mencari, mengolah, menyampaikan informasi dalam bentuk apa pun sesuai dengan prinsip dan etika jurnalisme.

“Karena itu kami membuka diri seluasnya untuk siapa pun yang mau bergabung dan berdiri bersama AJI Bengkulu,” ujar Harry Siswoyo.

Koordinator Bidang Keorganisasian AJI Bengkulu Hidi Christopher menambahkan, jadwal penerimaan yang disertai dengan pengembalian formulir pendaftaran akan dimulai pada Kamis, 10 Oktober 2019 dan berakhir pada 30 Oktober 2019.

Adapun kriteria untuk bisa bergabung menjadi bagian anggota AJI yaitu reporter, pewarta foto, video journalist, juru kamera, kemudian editor/redaktur, kurator berita, produser siaran berita, editor foto berita, editor video berita.

Selanjutnya yakni periset berita, kolumnis, ilustrator berita, karikaturis, perancang grafis berita, pengecek fakta, penulis cuplikan berita di televisi dan jejaring sosial, pembaca berita di televisi dan radio, jangkar berita (news anchor), jurnalis warga (blogger/vlogger/youtuber) dan jurnalis mahasiswa.

Mengenai teknis lainnya, pendaftar bisa membaca ketentuan lengkapnya di laman ini

 

Narahubung:

Koordinator Bidang Keorganisasian

H Cristopher 0822 8278 9081

PPATK dan AJI Bengkulu Rencanakan Program Kolaborasi

BENGKULU – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bersama Aliansi Jurnalis Independen akan menggagas program kolaborasi untuk menginformasikan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Bengkulu.

“Format gagasan ini akan dibicarakan lebih lanjut,” ujar Wakil Ketua PPATK Dian Ediana Rae dalam kunjungannya di sekretariat AJI Bengkulu, Senin, 7 Oktober 2019.

Menurut Dian, jurnalis adalah mitra strategis yang bisa mengambil peran dalam penanganan TPPU. Sebab dalam sebuah analisis sebuah potensi kejahatan, PPATK biasanya juga memakai sumber informasi dari laporan jurnalis.

“Sumber data kami itu ada dua. Pertama itu structure yakni dari laporan perbankan, dan transaksi lain-lain. Dan kedua unstructure, nah ini dari laporan publik. Seperti media,” ujarnya.

“Jadi misalnya kalau sudah masuk media isu korupsi di daerah, maka radar kami juga bekerja kesitu,” tambahnya.

Terkait kondisi Bengkulu. Dian menyebutkan, dari pengamatan PPATK, Bengkulu masuk dalam rangking ke-8 atau peringkat ke-25 dari 34 provinsi se Indonesia soal laporan transaksi yang mencurigakan.

Ini artinya, patut menjadi perhatian. Bahwa daerah yang memiliki penduduk tak sampai 2 juta orang ini, ternyata berpotensi menjadi lahan kejahatan untuk TPPU.

“Sudah tiga gubernur yang ditangkap. Itu artinya satu saja ditangkap tidak cukup,” ujar Dian.

Sementara itu, Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo, mengaku menyambut baik kehadiran PPATK apalagi untuk berkolaborasi dalam mengedukasi publik untuk mewaspadai transaksi keuangan yang menyimpang.

“AJI Bengkulu sudah menjadi pelopor di Indonesia membentuk jurnalis antikorupsi bersama KPK. Tentu bukan tidak mungkin dengan PPATK kita bisa lebih jauh berkolaborasi,” ujarnya. (rls)

 

 

aji bengkulu

AJI Bengkulu Kecam Kekerasan Terhadap Jurnalis

Bengkuluekspress.com – Puluhan Jurnalis Bengkulu, mengadakan aksi simpatik di Tugu Pers, Tapak Paderi, Kota Bengkulu, Sabtu siang (28/9/19). Aksi ini mengecam kekerasan terhadap sejumlah jurnalis yang mengalami kekerasan saat melaksanakan tugas liputan, seperti dikeroyok oleh aparat, dihalangi dalam bertugas dan sejumlah kekerasan fisik lainnya.

Sebagaimana kekerasan yang dialami jurnalis, seperti terjadi di Jakarta, Makassar, Jayapura dan lainnya saat meliput aksi unjuk rasa 24-25 September lalu. Dalam aksi ini para jurnalis membawa beberapa pamflet dari karton yang bertuliskan kecaman dan penolakan terhadap kekerasan bagi para jurnalis. “Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyebutkan sepanjang unjuk rasa September 2019 terdapat 14 jurnalis mengalami kasus kekerasan fisik yang dilakukan oleh aparat kepolisian,” ujar ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo kepada Bengkuluekspress.com.

Selengkapnya..

3 Jurnalis Makassar Dianiaya Polisi Saat Liputan Demo Mahasiswa

tirto.id – Tiga jurnalis di Makassar, Sulawesi Selatan mengalami kekerasan oleh aparat kepolisian saat meliput demo mahasiswa di depan Gedung DPRD Sulsel, Jalan Urip Sumoharjo Makassar, Selasa (24/9/2019) petang.

Ketiga jurnalis itu, yakni Muhammad Darwin Fathir jurnalis Antara, Saiful jurnalis Inikata.com (Sultra), dan Ishak Pasabuan jurnalis Makassar Today.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, Nurdin Amir menjelaskan kronologi pemukulan ini. Darwin, kata Nurdin, dikeroyok oleh polisi di depan kantor DPRD Sulsel. Dia ditarik, ditendang dan dihantam menggunakan pentungan di tengah-tengah kerumunan polisi.

“Padahal dalam menjalankan tugas jurnalistiknya Darwin telah dilengkapi dengan atribut dan identitas jurnalis berupa ID Card Antara,” katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (24/9/2019).

AJI Makassar, kata dia, telah memiliki bukti rekaman video dan foto yang menunjukkan pemukulan aparat ke Darwin. Menurut dia, sejumlah rekan jurnalis yang saat itu berusaha melerai tindakan kepolisian terhadap Darwin sama sekali tak diindahkan.

Polisi bersenjata lengkap, lanjutnya, tetap menyeret dan memukul Darwin. Pemukulan berhenti saat rekan-rekan jurnalis berhasil meraih Darwin dari kerumunan polisi dan dibawa menjauh.

Darwin terluka di kepala dan bibir. Sedangkan, Saiful dipukul dengan pentungan dan kepala dibagian wajahnya oleh polisi. Pengniayaan ini, kata Nurdin, diduga dipicu polisi yang tak terima saat Saiful masih memotret polisi yang memukul mundur para demonstran dengan gas air mata dan water cannon.

“Saiful telah memperlihatkan identitas lengkapnya sebagai seorang jurnalis yang sementara menjalankan tugas jurnalistik, peliput demonstrasi. Alih-alih memahami, polisi justru dengan tetap memukul Saiful,” ungkapnya.

Saiful menderita luka lebam, di mata kiri dan kanannya akibat hantaman benda tumpul aparat. Ishak juga dilarang mengambil gambar saat polisi terlibat bentrok dengan demonstran. Ishak, ujar Nurdin, diduga dihantam benda tumpul oleh polisi di bagian kepala.

“Kekerasan dan intimidasi yang dilakukan aparat kepolisian terhadap wartawan melanggar Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. Pasal 8 UU Pers menyatakan dalam menjalankan profesinya jurnalis mendapat perlindungan hukum,” kata dia.

UU Pers juga mengatur sanksi bagi mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan. Pasal 18 UU Pers menyebutkan: ”Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.”

“Kami mendesak Kapolda Sulsel memproses tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum aparat kepolisian dan diadili di pengadilan hingga mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar ada efek jera. Sehingga kasus serupa tak terulang di masa mendatang,” kata dia.