Buku: South East Asia Media Freedom Report 2018

Buku ini berisi tentang laporan mengenai impunitas, keselamatan dan kondisi kerja jurnalis di Asia Tenggara 2018 yang dirangkum oleh IFJ. Laporan ini meliputi negara Indonesia, Kamboja, Malaysia, Myanmar, Filipina, dan Timor Leste.

Unduh buku

Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo dalam sambutan MoJo Universitas Dehasen-AJI Bengkulu.Foto AJI Bengkulu

Praktik MoJo Memudahkan Kerja Jurnalistik

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, kembali menggelar kegiatan kursus singkat Mobile Journalism (MoJo), Sabtu 14 Desember 2019, pukul 10.00 WIB.

Kegiatan yang berlangsung di aula lantai IV, Universitas Dehasen Bengkulu tersebut, melibatkan 108 peserta dari kalangan mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi di Bengkulu.

Seperti, mahasiswa/i Fakultas Ilmu-ilmu Sosial universitas Dehasen, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bengkulu, IAIN Curup, kabupaten Rejang Lebong dan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bengkulu.

AJI Bengkulu sebelumnya telah menggelar kegiatan kursus singkat MoJo, pada Kamis, 05 Desember 2019. Pada kegiatan itu melibatkan 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, blogger, youtuber dan content creator Bengkulu yang digelar di Boombaru Resto kota Bengkulu.

Sebanyak 155 peserta mendaftarkan diri, sejak pendaftaran secara online melalui form google dibuka pada Kamis, 5 Desember 2019 hingga Rabu, 11 Desember 2019.

”Peserta yang dinyatakan lolos sesuai dengan kriteria untuk mengikuti short course and Practice-MoJo, Universitas Dehasen-AJI Bengkulu, sebanyak 108 peserta,” kata Koordinator Bidang Pendidikan AJI Bengkulu, Demon Fajri, Sabtu (14/12/2019).

Pada kursus singkat tersebut, sampai Demon, seluruh peserta mendapatkan materi berupa, journalism by the people yang disampaikan Dedek Hendry, selaku ketua AJI Bengkulu, periode 2015-2019/Jurnalis The Jakarta Post.

Lalu, phonegraphy/fotoponsel disampaikan Koordinator Bidang Perempuan AJI Bengkulu, Komi Kendy Settiawaty dan Ketua AJI Bengkulu periode 2019-2022, Harry Siswoyo.

Sementara materi mobile journalism disampaikan Heri Aprizal, Koodinator Bidang Komunikasi dan Data AJI Bengkulu/Redaktur surat kabar harian (SKH), Rakyat Bengkulu.

”Ini merupakan kegiatan pelatihan pertama kali digelar AJI Bengkulu di perguruan tinggi. Dehasen merupakan kampus pertama yang membuka diri untuk menguatkan dan meningkatkan kapasitas mahasiswa/i dalam Mobile Journalism,” terang jurnalis okezone.com ini.

”Dari kursus singkat ini diharapkan dari mahasiswa/i dapat membentuk komunitas berbasis jurnalis warga dengan mengedepankan etika,” sampai Demon.

Ratusan mahasiswa/i ikuti Short Course and Practice-Mobile Journalism (MoJo), Universitas Dehasen-AJI Bengkulu, Sabtu 14 Desember 2019. Foto AJI Bengkulu.

MoJo Memudahkan Kerja Jurnalistik
Jurnalisme sejatinya memang milik semua orang. Karena itu siapa pun bisa melakukannya. Hanya saja memang ada nilai-nilai yang mesti dipatuhi. Salah satunya adalah verifikasi. Dengan itu, produk jurnalise dalam bentuk apa pun bisa dipercaya dan bukan tidak mungkin mendorong perubahan sosial.

Short Course and Practice-Mobile Journalism (MoJo), adalah salah satu contoh terapan praktik jurnalisme yang bisa dilakukan siapa pun. Berbekal telepon pintar, dan sentuhan nilai jurnalisme maka ini akan menjadi sebuah karya yang bisa dipercaya.

Bagi jurnalis, kata Ketua aliansi jurnalis independen (AJI) Bengkulu, Harry Siswoyo, jelas dengan menerapkan praktik MoJo akan bisa memudahkan kerja-kerja jurnalistik yang kian hari makin banyak duversifikasinya.

Di sisi lain, bagi mahasiswa atau masyarakat MoJo juga akan memudahkan. Setidaknya untuk mendokumentasikan sebuah aktivitas atau untuk mengkampanyekan sesuatu bagi kepentingan publik.

”Terima kasih untuk Universitas Dehasen Bengkulu, yang telah menjadi tuan rumah. AJI secara kelembagaan mengapresiasi semangat Dehasen sebagai mitra AJI. Semoga semangat ini bisa menularkan kepada kampus lain untuk juga ikut menguatkan kapasitas mahasiswanya, khususnya dalam era digital hari ini,” kata Harry.

MoJo Berhubungan dengan Mata Kuliah
Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, Universitas Dehasen Bengkulu, Asnawati mengatakan, kursus singkat MoJo Universitas Dehasen-AJI Bengkulu merupakan salah satu bentuk output kerjasama AJI Bengkulu dengan Fakultas Ilmu-ilmu Sosial, beberapa waktu lalu.

MoJo, kata Asnawati, sangat bermanfaat mahasiswa/i universitas Dehasen, Khususnya, fakultas ilmu-ilmu sosial. Di mana kursus singkat MoJo banyak sekali yang berhubungan dengan mata kuliah ilmu komunikasi. Baik mengenai jurnalis, fotografi serta lainnya.

Melalui MoJo, terang Asnawati, nantinya mahasiswa/i dapat memanfaatkan teknologi melalui smartphone dengan baik dan beretika.

”Saya berharap pelatihan ini dapat diikuti peserta sampai selesai. Gali-lah ilmunya dari pakar-pakar AJI Bengkulu,” terang Asnawati.

Ditambahkan Rektor Universitas Dehasen Bengkulu, Prof. Johan Setiantoas, pada saat ini stigma masyarakat sudah berubah. Jika sebelumnya masyarakat membaca informasi melalui media massa atau koran. Namun, pada era milenial masyarakat sudah bergeser ke media online melalui berbagai platform.

”Kalau tidak bergeser ke sana (media online) maka akan ketinggalan,” jelas Johan.

Pada era milenial, sampai Johan, saat ini setiap orang bisa melaporkan sesuatu kejadian secara langsung, dengan menggunakan berbagai platform. Sehingga informasi tersebut cepat menyebar ke dunia maya.

Dahulu, tambah Johan, pepatah mengatakan mulut mu harimau mu. Namun, pada saat ini jempol mu adalah harimau mu. Dari itu, harap Johan, perlu adanya etika dalam penyampaian informasi ke dunia maya yang disebar melalui berbaga[i platform.

”Internet ada sisi positif dan negatif. Namun, kita harus tahu apa yang layak diberikan ke publik apa yang tidak boleh diberikan ke publik. Melalui MoJo ini setidaknya jurnalis warga dapat beretika dalam penyampaikan informasi ke dunia maya,” sampai Johan.

Kursus singkat Mobile Journalism (MoJo)-AJI Bengkulu, Kamis, 05 Desember 2019. Foto AJI Bengkulu

AJI Bengkulu Inisiasi Pelatihan MoJo

BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen Bengkulu menggelar kegiatan kursus singkat Mobile Journalism (MoJo), Kamis, 05 Desember 2019. Kegiatan yang melibatkan 30 peserta dari kalangan mahasiswa, jurnalis, blogger, youtuber dan content creator Bengkulu ini digelar di Boombaru Resto.

Koordinator Bidang Pendidikan AJI Bengkulu, Demon Fajri mengatakan, kursus singkat gratis ini sebagai bagian dari misi edukasi AJI, khususnya terkait penggunaan telepon pintar yang hari ini telah menjadi satu kebutuhan penting setiap orang.

Metode pelatihan ini akan menggunakan pola pemaparan dan diskusi serta praktik singkat penerapan telepon seluler sebagai alat untuk mendokumentasikan apa pun, tentunya dengan sentuhan jurnalisme.

“Peserta diberikan tips penulisan naskah, reportase, pengambilan video, grafis dan editing,” kata Demon.

Pendaftaran kursus singkat Mobile Journalism yang digelar AJI Bengkulu, dilakukan secara daring yang dibuka sejak Minggu, 1 Desember 2019. Total pendaftar sejak dibuka hingga Senin, 2 Desember 2019 tercatat telah melebihi kuota yakni 64 orang.

Dengan rincian, jurnalis sebanyak 19 orang, mahasiswa/i 30 orang, blogger empat orang, Vlogger lima orang dan umum sebanyak enam orang.

“Namun, 30 peserta yang dinyatakan lolos seleksi. Itu sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan,” kata Demon.

Pelatihan yang difasilitasi oleh Koordinator Bidang Komunikasi dan Data AJI Bengkulu, Heri Aprizal berharap dapat melahirkan inisiasi komunitas MoJo di Bengkulu. Sehingga menjadi wadah berbagi dan belajar bersama.

“AJI siap memberikan pendampingan dan penguatan kepada para peserta ini jika ingin lebih serius kedepannya,” ujar Heri.

Jurnalisme oleh Warga
Di bagian lain, Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo menyebutkan bahwa penerapan Mobile Journalism menjadi ruang bagi publik mendapatkan kembali nilai jurnalisme yang selama ini telah hidup di masyarakat.

“Jurnalisme kini bukan cuma milik jurnalis seutuhnya. Loncatan digital lewat telepon pintar dan media sosial serta internet membuat jurnalisme kini milik setiap orang,” kata Harry.

Dedek Hendry, Ketua AJI Bengkulu, periode 2015-2019, menambahkan bahwa jurnalisme sesungguhnya memang telah ada sepanjang peradaban manusia. Sejak seorang manusia mulai bisa berkomunikasi. Sejak itu pula orang tersebut, sebenarnya telah menjadi pencari dan pengabar berita atau informasi.

Karena itu, secara manusiawi seorang manusia akan mencari dan mengabarkan berita atau informasi faktual atau benar, untuk kebaikan dirinya sendiri atau orang lain.

“Sehingga, ketika dikaitkan dengan moralitas, adalah mustahil seorang manusia yang bermoral akan mencari dan mengabarkan berita bohong, apalagi fitnah,” terang jurnalis The Jakarta Post ini.(**)

AJI Bengkulu : Pemanfaatan Smartphone harus Memiliki Etika

BENGKULU – Saat ini generasi millennial mencari identitas melalui media internet. Bagi generasi Z media internet efektif dan efisien, untuk mendapatkan jati diri. Di mana internet memberikan banyak kemudahan pada era millennials.

Berdasarkan data asosiasi penyelenggara jasa internet Indonesia (APJII) 2018, di Indonesia, pada 2017 jumlah pengguna Internet mencapai 143,26 juta jiwa.

Tingginya pertumbuhan pengguna Internet, sekira 143,26 juta atau 54,68 persen dari total penduduk Indonesia, diikuti dengan makin ketatnya kontrol pemerintah.

Dari data Nielsen sepanjang tahun 2014 hingga 2017, media internet tumbuh 21 persen dengan kenaikan durasi mengakses 50 persen.

Derasnya arus informasi di era ini berbagai platform digital, utamanya situs dan media sosial terus mengalami pemblokiran dan penyensoran. Hal tersebut dalam rangka melawan arus berita palsu, penyebaran ideologi radikal dan pornografi.

Berdasarkan data dari Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (Dikominfotik) provinsi Bengkulu, site operastor seluler di Bengkulu, sebanyak 805 site.

Jumlah itu tersebar di 10 kabupaten/kota di provinsi berjuluk ”Bumi Rafflesia” ini. Di mana ratusan site itu di miliki 5 provider atau penyelenggara jasa internet.

Bahkan, Diskominfotik provinsi Bengkulu telah memasang jaringan internet di organisasi perangkat daerah (OPD), Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).

Lalu, Sekolah Luar Biasa (SLB), Sekolah Menengah Atas (SMA), objek wisata dan kampung nelayan yang tersebar di seluruh pelosok Bengkulu. Jaringan internet yang terpasang tersebut dapat di akses secara gratis.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu, Harry Siswoyo mengatakan, saat ini seluruh orang telah memiliki smartphone. Mereka mengabarkan apa pun melalui ponselnya. Foto, video, audio dan teks semua bisa dikelola dalam ponsel.

Secara tidak langsung sadar atau tidak, kata Harry, semua orang telah menjadi pewarta. Meski begitu, pemanfaatan smartphone tetap harus memiliki etika dan pengetahuan dasar yang baik, agar penggunanya tidak terjebak dalam paparan informasi negatif.

”AJI Bengkulu mencoba memfasilitasi ini dengan mengenalkan Mobile Journalism kepada mahasiswa/blogger/youtuber/content creator. Semoga dengan pengetahuan ini, praktik jurnalisme ponsel yang kini marak dilakukan citizen dapat lebih berkualitas dan terpercaya,” kata Harry, Minggu (1/12/2019).

Ditambahkan Koordinator Bidang Pendidikan, AJI Bengkulu, Demon Fajri, berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, pengguna internet berdasarakan umur 12-14 tahun 9,9 persen, 15-19 tahun 10,9 persen, 20-24 tahun 11,6 persen.

Lalu, 25-29 tahun 14,2 persen, 30-34 tahun 11,8 persen, 35-39 tahun 10,9 persen. Di usia tersebut termasuk dalam digital native. Di mana generasi yang lahir dan hidup di era internet menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kemudian, 40-44 tahun 10,1 persen, 45-49 tahun 9,1 persen, 50-54 tahun 5,0 persen, 55-59 tahun 3,1 persen. Usia ini merupakan generasi immigrant.

Sementara untuk penggunaan internet melalui komputer atau tablet dalam sehari masyarakat Indonesia, selama 5 jam 6 menit. Dengan menggunakan internet di ponsel selama 3 jam 10 menit. Kemudian, menggunakan internet melalui media sosial.

Social networking system, seperti Facebook (FB), Twitter, Instagram (Ig) dan YouTube maupun social platform seperti WhatsApp (WA), Line, selama 2 jam 52 menit. Terakhir, pengguna internet menonton tv, selama 2 jam 29 menit.

”Geneasi ini harus belajar beradaptasi dengan internet sehat,” jelas Demon.

Kegiatan Mobile Journalism untuk mahasiswa, Blogger, YouTuber, content creator, sampai Demon, akan di gelar di Boom Baru Restro, jalan pelabuhan lama, kelurahan Malabero kota Bengkulu.

Acara itu, sambung Demon, tidak dipungut biaya sama sekali atau gratis. Selain itu, terang dia, untuk peserta kegiatan mobile journalism akan dibatasi sebanyak 30 orang peserta.

”Bagi peserta yang berminat mengikuti kegiatan bisa langsung menghubungi panitia, melalui WhatsApp (WA) ke nomor +6281289571946 atau ke nomor WA +62 85268466020, dengan mencantumkan Nama, Profesi (Mahasiswa, Blogger, YouTuber dan lain-lain),” sampai Demon.