PPATK dan AJI Bengkulu Rencanakan Program Kolaborasi

BENGKULU – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bersama Aliansi Jurnalis Independen akan menggagas program kolaborasi untuk menginformasikan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) di Bengkulu.

“Format gagasan ini akan dibicarakan lebih lanjut,” ujar Wakil Ketua PPATK Dian Ediana Rae dalam kunjungannya di sekretariat AJI Bengkulu, Senin, 7 Oktober 2019.

Menurut Dian, jurnalis adalah mitra strategis yang bisa mengambil peran dalam penanganan TPPU. Sebab dalam sebuah analisis sebuah potensi kejahatan, PPATK biasanya juga memakai sumber informasi dari laporan jurnalis.

“Sumber data kami itu ada dua. Pertama itu structure yakni dari laporan perbankan, dan transaksi lain-lain. Dan kedua unstructure, nah ini dari laporan publik. Seperti media,” ujarnya.

“Jadi misalnya kalau sudah masuk media isu korupsi di daerah, maka radar kami juga bekerja kesitu,” tambahnya.

Terkait kondisi Bengkulu. Dian menyebutkan, dari pengamatan PPATK, Bengkulu masuk dalam rangking ke-8 atau peringkat ke-25 dari 34 provinsi se Indonesia soal laporan transaksi yang mencurigakan.

Ini artinya, patut menjadi perhatian. Bahwa daerah yang memiliki penduduk tak sampai 2 juta orang ini, ternyata berpotensi menjadi lahan kejahatan untuk TPPU.

“Sudah tiga gubernur yang ditangkap. Itu artinya satu saja ditangkap tidak cukup,” ujar Dian.

Sementara itu, Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo, mengaku menyambut baik kehadiran PPATK apalagi untuk berkolaborasi dalam mengedukasi publik untuk mewaspadai transaksi keuangan yang menyimpang.

“AJI Bengkulu sudah menjadi pelopor di Indonesia membentuk jurnalis antikorupsi bersama KPK. Tentu bukan tidak mungkin dengan PPATK kita bisa lebih jauh berkolaborasi,” ujarnya. (rls)