Alert AJI soal Intimidasi terhadap Victor Mambor

Jakarta – Victor Mambor, jurnalis Koran Jubi dan jubi.co.id, yang juga pengurus nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menjadi korban kekerasan dalam bentuk doxing di media sosial twitter oleh akun bernama Dapur (@antilalat), Kamis (22/8/2019). Doxing adalah pelacakan dan pembongkaran identitas jurnalis yang menulis tidak sesuai aspirasi politik pelaku, lalu menyebarkannya ke media sosial untuk tujuan negatif.

Pemilik akun @Dapur menuding Victor sebagai penghubung Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan pemasok informasi bagi pengacara hak asasi manusia Veronica Koman. Setidaknya ada 3 kali tudingan yang dilontarkan @Dapur terhadap Victor dalam rentang Juli-Agustus 2019 ini. 

AJI menilai informasi yang disebarkan oleh @Dapur tersebut adalah tidak berdasar dan merupakan upaya untuk memojokkan dan mengintimidasi Victor Mambor. Kami menilai apa yang dilakukan oleh Victor melalui medianya merupakan hal yang standar dilakukan media, yaitu menyampaikan informasi seobyektif mungkin dan menerbitkannya setelah melalui proses verifikasi seperti diamanatkan dalam Kode Etik Jurnalistik.

AJI mengingatkan kepada pengguna media sosial, dan juga aparat keamanan, bahwa jurnalis dalam menjalankan profesinya dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Jika ada yang merasa ada yang tidak tepat, keliru dari karya jurnalistik yang dimua media, Undang Undang Pers memberi penyaluran melalui mekanisme hak jawab, hak koreksi atau pengaduan kepada Dewan Pers.

AJI adalah organisasi jurnalis yang misinya memperjuangkan kebebasan pers, meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan jurnalis. AJI memiliki 1.846 anggota yang tersebar di 38 kota. AJI menjadi anggota sejumlah organisasi internasional: International Federation of Journalists (IFJ), berkantor pusat di Brussels, Belgia: International Freedom of Expression Exchange (IFEX), berkantor pusat di Toronto, Kanada: Global Investigative Journalism Network (GIJN), berkantor pusat di Maryland, AS: Forum Asia, jaringan hak asasi manusia berkantor pusat di Bangkok, Thailand; South East Asian Press Alliance (SEAPA), yang bermarkas di Bangkok.

Kontak Personal:

Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Sasmito Madrim (62 857-7970-8669)

AJI Bengkulu Gelar Belajar Menulis Bersama Difabel

Bengkulu – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu bekerjasama dengan Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang Disabilitas menggelar pelatihan menulis bagi kelompok difabel di Bengkulu.

Iniasi swadaya ini melibatkan lebih dari 30 penyandang disabilitas yang tersebar di Bengkulu. “Kami ingin mereka bisa menyuarakan tentang mereka lewat menulis,” ujar Ketua PIK-PPD Irna Riza Yuliastuti, Jumat, 23 Agustus 2019.

Pelatihan ini akan digelar secara bertahap dengan pertemuan sepekan sekali. Sebagai pembelajaran awal, kelompok difabel akan diajak mengenal metode menulis sederhana dengan menggunakan metodologi perencanaan ide, lalu penyusunan outline dan mengemas ide tulisan dalam sebuah draft tulisan.

Proses belajar ini akan berlangsung terus menerus hingga kelompok difabel dianggap telah mampu memproduksi sebuah karya tulisan. Setelah ini, baru kemudian kelompok difabel akan belajar bersama mengenai teknik fotografi dasar, lalu videografi dan bahkan menggambar objek.

AJI Bengkulu juga membuka diri kepada para pihak untuk dapat berkolaborasi menguatkan kelompok difabel berdasarkan kompetensi yang dimiliki. “Semua bisa berbagi pengetahuan. Tinggal dikolaborasikan,” ujar Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo.

AJI Mengkritik Pelambatan Akses Internet di Papua

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) melakukan pelambatan akses internet menyusul adanya rentetan demonstrasi di Papua dan Papua Barat, 19 Agustus 2019. Demonstrasi tersebut dipicu penangkapan 43 mahasiswa asal Papua di Asrama Papua, Surabaya, Jawa Timur yang diwarnai dengan isu rasisme.

Pelambatan akses internet (throttling) dilakukan di Manokwari, Papua Barat dan Jayapura, Papua, dan sejumlah wilayah lain di Papua secara bertahap pada 19 Agustus 2019, mulai dari pukul 13.00 WIT hingga sekitar pukul 20.30 WIT. Plt Kepala Biro Humas Kemkominfo Ferdinandus Setu melalui rilis menjelaskan, pelambatan akses internet itu untuk mencegah penyebaran hoaks yang dapat memicu demonstrasi lebih besar.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mendeteksi ada dua hoaks yang berkaitan dengan demonstrasi di Papua dan Papua Barat itu, yaitu soal “foto warga Papua yang tewas dipukul aparat di Surabaya”, dan “Polres Surabaya menculik dua pengantar makanan untuk mahasiswa Papua”.

Menyikapi langkah pemerintah ini, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyatakan sikap:
 
1. AJI meminta pemerintah tidak mengulangi kebijakan pelambatan akses internet di semua wilayah Indonesia, tidak terkecuali Papua. Kami menilai langkah ini tak sesuai semangat Pasal 28F UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi, serta pasal 19 Deklarasi Umum HAM yang memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi.
 
2. AJI meminta pemerintah menghormati hak publik untuk memperoleh informasi. Meskipun langkah ini dimaksudkan untuk mencegah hoaks, namun di sisi lain, pelambatan ini juga menghambat akses masyarakat, khususnya Papua dalam mencari informasi yang benar. Pelambatan juga membuat publik kesulitan saling bertukar kabar dengan kerabat dan keluarga. Di samping itu, kebijakan ini juga menghambat kerja-kerja jurnalis dan pemantau HAM dalam melakukan pemantauan peristiwa di Papua.

3. Menyerukan kepada semua pihak untuk menggunakan kebebasan berekspresi dengan sebaik-baiknya. Kami menolak segala macam tindakan provokasi dan tindakan rasis yang bisa memicu perpecahan dan kekerasan yang bisa membahayakan kepentingan umum dan demokrasi.
 
Jakarta, 20 Agustus 2019

Ketua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan (0818-948-316)
Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Sasmito Madrim ( 0857-7970-8669)

Buku: Menjaga Langit Biru

Tema “pembangunan berkelanjutan” menjadi topik menarik karena menjadi kepedulian masyarakat internasional. Ada kebutuhan besar untuk menerapkan konsep pembangunan ekonomi tanpa membahayakan sumber daya alam agar generasi mendatang bisa
memenuhi kebutuhannya. Ini juga menjadi inisiatif global yang tertuang dalam Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang diadopsi negara anggota PBB pada 2015 lalu.

Bagi Sekolah Jurnalisme AJI (Aliansi Jurnalis Independen), merupakan kesempatan yang berharga bisa bekerja sama dengan The Global Reporting Initiative (GRI) dan didukung oleh State Secretariat for Economic Affairs, Economic Cooperation and Development (SECO), dalam program Training for Journalist Storytelling for Creating Public Demand for Corporate Accountability through Sustainability Reporting ini. Sesuai temanya, pelatihan ini berfokus pada peran perusahaan dalam soal pembangunan berkelanjutan itu.

Kegiatan ini merupakan rangkaian aktivitas dengan sasaran utama adalah jurnalis dari sejumlah kota di Indonesia. Programnya meliputi pelatihan di 3 Kota, yaitu di Gorontalo, Bandung, dan Balikpapan. Tujuan pelatihan ini adalah meningkatkan kapasitas jurnalis dalam menulis dan melaporkan tentang pelaporan dan praktik laporan berkelanjutan perusahaan, terutama dalam isu sosial, lingkungan, dan ekonomi.

Usai pelatihan, sebagian dari jurnalis itu mendapatkan beasiswa untuk melakukan liputan. Untuk membantu “proses belajar” selama di lapangan, ada mentoring oleh wartawan senior. Mentoring diberikan sejak dari proses perencanaan, peliputan, dan penulisannya. Hasil karya para jurnalis yang mendapatkan beasiswa itu kemudian dituangkan menjadi buku yang kini berada di tangan Anda.

Unduh Buku

HUT Ke-25, AJI Beberkan Tiga PR Utama Jurnalisme Indonesia

VIVA – Dalam acara malam resepsi Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen ke-25, Ketua Umum AJI, Abdul Manan menegaskan, meskipun ini adalah tahun yang istimewa karena usia seperempat abad AJI bertepatan dengan usia 20 tahun kebebasan pers, namun ini adalah sebuah era di mana jurnalisme mendapatkan tantangan yang sangat serius.

Abdul mengibaratkan bahwa di masa saat ini, dunia pers Indonesia seperti berada di tengah badai kecil dengan sejumlah pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan.

“Dalam tiga hal krusial yang bisa kita lihat dari pers Indonesia saat ini adalah soal kebebasan, profesionalitas, dan kesejahteraan. Kita masih belum punya nilai yang bagus di ketiga hal tersebut,” kata Abdul dalam sambutannya di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu 7 Agustus 2019.

 Abdul menjelaskan, saat ini pers Indonesia masih harus melihat banyaknya tantangan, karena jumlah kasus kekerasan terhadap awak media masih sangat tinggi. Selain itu, masih ada sejumlah undang-undang yang mengancam dan berpotensi memenjarakan para wartawan, dalam melaksanakan tugas-tugas jurnalistiknya.

“Hal itu juga dibuktikan dengan jumlah pengaduan ke dewan pers yang masih besar,” kata Abdul.

Selengkapnya..

Rayakan HUT, AJI bahas tantangan pers di era dirupsi digital

Jakarta (ANTARA) – Memperingati 25 tahun kelahirannya, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menyelenggarakan seminar konferensi regional dan nasional dengan mengusung tema besar “The Biggest Challenge of Journalism in Digital Era” yang diadakan di Hotel JS Luwansa, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa

Kedua seminar ini membahas tentang tantangan jurnalis maupun media serta kondisi pers dan bisnis media secara keseluruhan yang menghadapi era disrupsi digital. Kondisi yang membawa dampak yang besar terhadap media dan jurnalisme saat ini.

“Diskusi ini mengemuka dalam Kongres IFJ di Tunisa Juni lalu. Hampir 50 persen peserta mengkhawatirkan tentang ancaman terhadap kebebasan pers,” ujar Ketua Umum AJI Abdul Manan.

Selengkapnya..

Konferensi Nasional AJI: Tantangan Jurnalisme di Era Digital

Jakarta- Digitalisasi menjadi topik yang menjadi pembicaraan utama jurnalis dan pekerja media beberapa tahun ini. Perkembangan ini dipicu oleh massifnya pemanfaatan internet, dan kian terjangkaunya teknologi komunikasi dan infrastruktur pendukungnya yang makin baik dan luas. Penguna internet Indonesia saat ini sekitar 150 juta, lebih dari separoh populasi Indonesia yang sebanyak 260 juta.

Meluasnya pemanfaatan internet ini, tak bisa dihindari, mengubah pola penduduk dalam mengakses informasi dan cara media menyediakan berita. Digitalisasi ini menciptakan iklim perubahan pola konsumsi berita dari media konvensional ke digital, baik melalui media online maupun media sosial. Perkembangan ini mendoroang media untuk memberikan fokus baru -kalau bukan malah beralih-ke digital.

Peralihan besar ke digital ini diikuti juga perkembangan lainnya, yaitu alokasi iklan, cara kerja jurnalis dan jurnalisme. Digitalisasi mendorong para pengiklan mulai mengalihkan kue belanja iklannya dari media konvensional ke media digital, terutama ke mesin pencari dan media sosial. Hal ini berkontribusi bagi penurunan iklan media konvensional dan ikut menyumbang bagi tutupnya sejumlah perusahaan media cetak belakangan ini.

Digitalisasi juga mengubah cara kerja jurnalis. Digitalisasi mendorong media mengembangkan sayap digitalnya, dan itu mensyaratkan adanya perubahan pola kerja dari yang selama ini dilakukan dan juga membutuhkan keterampilan baru yang harus dikuasai. Jurnalis media cetak yang selama ini hanya menulis berita, mulai diminta untuk membuat berita yang bisa dipakai untuk radio, online atau TV.

Jurnalisme yang dikembangkan media juga “menyesuaikan” dengan arus perubahan ini. Ada yang mengikuti arus ini dengan pragmatis, yang itu kemudian memicu kritik terhadap kualitas jurnalismenya. Persaingan dengan media sosial membuat sejumlah media mengikutinya dengan berita cepat dan juga berusaha menjual atau mengemas berita agar lebih banyak dibaca (click bait) sehingga bisa mendapatkan iklan.

Tak semua media mengikuti apa yang disebut sebagai “resep klasik” bertahan di dunia digital tersebut, yaitu mengejar kecepatan dan menjual sensasi untuk mendapatkan iklan. Ada juga media yang bertahan dengan jurus klasik “content is king” dengan terus menerapkan jurnalisme investigasi dan mengembangkan jurnalisme data.

Namun narasi yang banyak diketahui publik, media berusaha bertahan di era digital ini dengan menomorsatukan bisnis dan mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalisme. Beberapa contoh yang kerap dipakai untuk mereka yang memiliki pandangan ini adalah bahwa media kini tergoda menyediakan informasi yang “ingin” dibaca, bukan lagi apa yang “seharusnya” dikonsumi publik sebagai sebuah produk jurnalisme. Sebagai produk jurnalisme, berita tak hanya harus memenuhi kaidah kebenaran, tapi juga mencerahkan publik.

Situasi mendorong keprihatinan soal nasib jurnalisme di era digital. Sejumlah pertanyaan yang mengemuka dalam soal ini, seperti apa wajah jurnalisme Indonesia di tengah badai digital ini? Benarkah media sudah benar-benar mengikuti arus pasar dan tak lagi mengikuti norma-norma prinsip dalam jurnalisme? Ini baru gejala atau sudah menjadi pola kerja umum media di Indonesia?

Bagi jurnalisme, dan ini bukan hanya masalah Indonesia, tantangan yang dihadapi kini bukan semata soal perubahan iklim bisnis akibat digital. Tantangan lainnya juga menguatnya politik identitas, kefanatikan, yang melihat media dari kacamata sempit: jika tak sejalan dengan kepentingannya, dia akan disudutkan dan didelegitimasi. Taktik ini dipakai oleh para pemimpin sayap kanan atau penganut populisme seperti Donald Trump di Amerika Serikat.

Topik inilah yang diangkat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk memperingati hari ulang tahunnya yang ke-25 pada tahun 2019 ini. Konferensi nasional bertema Tantangan Jurnalisme di Era Digital ini akan dilaksanakan Selasa, 6 Agustus 2019, di Hotel JS Luwansa, Pukul 12.30-18.00 WIB.

Konferensi Nasional Sesi I: Wajah Kebebasan Pers Indonesia
1. Pemenang Call for Papers*
2. Abdul Manan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI)
3. Ade Wahyudin, Direktur Eksekutif LBH Pers
Moderator: Fira Abdurrahman, Jurnalis freelance

Konferensi Nasional Sesi II: Mencari Model Jurnalisme Indonesia
1. Pemenang Call for papers*
2. Nezar Patria, Pemimpin Redaksi the Jakarta Post
3. Ninuk Pambudy, Pemimpin Redaksi Harian Kompas
Moderator : Andy Muhyidin, Liputan 6    

Konferensi Nasional Sesi III: Menemukan model bisnis untuk media di Indonesia
1. Pemenang Call for papers*
2. Wenseslaus Manggut, Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI)
3. Titin Rosmasari, Pemimpin Redaksi CNN TV
Moderator : Aloysius Budi Kurniawan, Harian Kompas

-Bagi yang berminat mengikuti konferensi nasional ini, silakan mendaftar secara online melalui: http://bit.ly/konferensi-AJI atau mengirimkan email Registrasi ke: sekretariat@ajiindonesia.or.id sampai tanggal 5 Agustus 2019 dengan Subyek: Registrasi Peserta Konferensi Nasional.

  • Panitia menyediakan sertifikat bagi peserta yang mengikuti konferensi secara penuh
  • Informasi silakan kontak Sekretariat AJI Indonesia Jl. Sigura Gura No.1, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan 12760 Telepon: 021-22079779

Puluhan Jurnalis Bengkulu Berlatih Cek Fakta bersama Google

Bengkulutoday.com – Sebanyak 30 jurnalis di Provinsi Bengkulu mengikuti pelatihan verifikasi fakta secara online dan keamanan digital yang difasilitasi oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Google News Initiative dan Internews, Sabtu, 3 Agustus 2019.

“Melawan hoaks tidak cukup dengan literasi. Jurnalis juga perlu dibekali pengetahuan teknologi,” ujar Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo dalam sambutannya di Grage Horizon.

Pelatihan verifikasi fakta secara online ini menjadi program AJI secara nasional di seluruh Indonesia bersama Google News Initiative sejak tahun 2018. Target besar dari program ini adalah membentuk 3.000 fact checker di seluruh Indonesia guna menangkal sebaran hoaks dan informasi palsu di internet.

Selengkapnya..

30 jurnalis Bengkulu dibekali pelatihan cegah hoax dari Google

Bengkulu (ANTARA) – Sebanyak 30 orang jurnalis di Bengkulu Sabtu pagi (3/8) mendapat pelatihan menangkal isu hoax yang beredar di media sosial oleh Google. Pelatihan bertajuk google news initiative network ini bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia dan Internews.

Ketua AJI Bengkulu Harry Siswoyo mengatakan, pelatihan ini dilakukan sebagai bentuk komitmen AJI Indonesia untuk meningkatkan kapasitas para jurnalis di tengah semakin membanjirnya informasi saat ini.

“Publik hari ini dibanjiri dengan informasi. Untuk itu para jurnalis harus dibekali dengan ilmu yang lebih lanjut untuk melacak informasi-informasi palsu atau hoax,” katanya di Bengkulu, Sabtu.

Selengkapnya..

AJI Bengkulu Ajak Jurnalis Cerdas Dalam Memverifikasi Fakta Secara Online

RBO, BENGKULU – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu memberikan bekal ilmu bagi 30 orang jurnalis di Provinsi Bengkulu untuk mengikuti pelatihan verifikasi fakta secara online dan keamanan digital, Google News Initiative dan Internews. Pelatihan ini, berlangsung dari tanggal 3 sampai 4 Agustus 2019, bertempat di Hotel Grage .

Ketua AJI Bengkulu, Harry Siswoyo mengatakan, untuk melawan hoaks, tidak cukup dengan literasi atau hanya membaca saja. Melainkan, jurnalis juga harus dibekali pengetahuan tentang teknologi. “Pelatihan verifikasi fakta secara online ini, memang merupakan program AJI secara nasional di seluruh Indonesia bersama Google News Initiative sejak tahun 2018. Target besar program ini, membentuk 3000 fact checker di seluruh Indonesia guna menangkal sebaran hoaks dan informasi palsu di internet,” kata Harry pada jurnalis, kemarin.

Selengkapnya..