Winda Destriani (berjaket jeans) bersama Setiyo Rini menempelkan Lentera Perempuan di Kantor Desa Sumber Urip.

Lentera Perempuan, Media Akar Rumput Perempuan Pertama di Bengkulu

BENGKULU – Lentera Perempuan, media yang dibangun jurnalis perempuan akar rumput yang tergabung dalam Lentera Muda di Desa Sumber Urip, Kabupaten Rejang Lebong diluncurkan pada Kamis (14/5/2015) siang.

Media milik perempuan akar rumput pertama di Provinsi Bengkulu ini hadir untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya hak kesehatan seksual dan reproduksi.

“Supaya masyarakat dan pemerintah tahu dan paham hak-hak perempuan, serta terdorong untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak-hak perempuan,” ujar Ketua Lantera Muda Winda Destriani, usai membuat peta/denah penempelan Lentera Muda, Kamis (14/5/2015).

Inisiatif membangun Lentera Perempuan dilandasi pemahaman tentang peran vital media untuk informasi, edukasi dan advokasi. Media yang dibangun untuk menjadi bagian solusi atas permasalahan dan tantangan yang dihadapi perempuan.

“Ditempel di ruang publik atau tempat bertemu dan berkumpul banyak orang. Ada 22 lokasi di Desa Sumber Urip yang menjadi tempat penempelannya, termasuk kantor desa dan puskesmas,” tambah Winda.

Inisiatif perempuan muda yang berlatarbelakang pendidikan SMP dan SMA, serta sehari-hari bekerja sebagai buruh tani ini didukung Cahaya Perempuan Women’s Crisis Centre dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu. Dalam kajian media dan perempuan, inisiatif membangun media sendiri ini tergolong dalam gerakan “politics to media”.

“Diharapkan, teman-teman (Lentera Muda) bisa mengambil posisi secara politis melalui tulisan atau karya lainnya,” terang Koordinator Divisi Perempuan AJI Bengkulu yang juga jurnalis Tempo, Phesi Ester Julikawati.

Lentera Perempuan akan diproduksi minimal 1 bulan 1 kali dan dicetak di kertas foto berukuran A3. Untuk edisi pertama, berisikan salam redaksi, empat berita tulisan, dua foto dan kartun.

“Sangat efektif. Saya pikir ini (Lentera Perempuan) juga harus didistribusikan ke Bupati dan Gubernur supaya juga tahu aspirasi perempuan. Apalagi, ini (Lentera Perempuan) yang membuatnya adalah perempuan,” kata Kepala Desa Sumber Urip Yadi Sutanto.

Yadi sendiri mengaku terpengaruh dan tergugah dengan tulisan, foto dan kartun pada Lentera Perempuan. Salah satunya berita berjudul “Tempat Pemandian Umum Belum Peka Perempuan”.

“Kedepan, pembangunan tempat pemandian umum harus mempertimbangkan kepentingan perempuan, termasuk fasilitas lainnya. Jadi, sekali lagi, saya sangat berharap Lentera Perempuan ini terus diproduksi,” ujar Yadi. (rls)

Posted in Berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *